Wapu, Jita (ANTARA) - Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia melakukan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan Program Kampung Sehat di Kampung Wapu, Distrik Jita, Kabupaten Mimika, Papua Tengah untuk memastikan layanan kesehatan yang diberikan oleh mitra kepada masyarakat setempat berkualitas.
Kepala Divisi Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kesehatan YPMAK Riana Wadibar di Wapu, Jumat (21/8/2026), mengatakan kegiatan tersebut dilakukan untuk mengetahui kualitas layanan sekaligus dampak program terhadap masyarakat di wilayah yang akses layanan kesehatannya masih terbatas.
"Sebenarnya tujuan kita melakukan monitoring untuk kegiatan program yang dijalankan oleh YPMAK ini supaya mau tahu seperti apa layanan yang sudah diberikan kepada masyarakat. Terus sejauh mana masyarakat menerima layanan yang diberikan oleh mitra kami," kata Riana.
Menurut dia, mitra YPMAK menjadi perpanjangan tangan dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat di daerah yang tergolong jauh dan cukup terisolir.
Dia menegaskan program tersebut bukan untuk menggantikan peran pemerintah, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab YPMAK sebagai pengelola dana kemitraan PTFI dalam memastikan manfaat program kesehatan benar-benar diterima masyarakat.
"Terutama kalau kita di Divisi Kesehatan, kita melihat bagaimana program kesehatan bisa langsung diterima oleh penerima manfaat untuk daerah-daerah yang jauh atau bisa dibilang cukup terisolir," ujar Riana.
Riana menjelaskan Program Kampung Sehat di Wapu telah berjalan sejak akhir 2024. Penempatan program di wilayah tersebut merupakan tindak lanjut atas permintaan masyarakat.
Sebelumnya, layanan ditempatkan di Waituku, Blumen, dan Sumapro, namun kemudian dialihkan ke Wapu berdasarkan kebutuhan dan permintaan masyarakat setempat.
Dalam monev tersebut, YPMAK juga melihat tingkat penerimaan masyarakat serta dampak program terhadap kepedulian warga terhadap kesehatan.
"Kita mau lihat sebenarnya bagaimana penerimaan masyarakat. Terus seperti apa dampak yang diberikan, apakah masyarakat ini merasa bahwa mereka cukup tertolong dengan adanya program atau penempatan yang kami berikan di masyarakat," ungkap Riana.
Lebih lanjut Riana menyebut salah satu hal yang masih perlu didorong yaitu kemandirian masyarakat dalam mendukung pengobatan, termasuk dalam penanganan malaria.
"PMO (pengawas menelan obat) itu kan sebenarnya harusnya kemandirian masyarakat, tetapi mungkin belum 100 persen, sehingga itu kita dorong juga supaya pengobatan. Contoh malaria, itu bisa tertangani dengan baik," sebutnya.
Selain mengevaluasi manfaat program, Riana turut menyoroti kondisi tempat tinggal petugas lapangan yang memberikan pelayanan kesehatan di Kampung Wapu.
Petugas saat ini masih menempati gedung gereja karena keterbatasan akomodasi sehingga diperlukan tempat tinggal yang lebih layak agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal.
"Saya hanya merasa cukup prihatin dengan teman-teman yang memang untuk akomodasi atau tempat tinggalnya masih sangat terbatas. Seperti kita lihat mereka sekarang kan menempati gereja," ucap Riana.
Dia berharap ke depan tersedia rumah yang lebih layak bagi para petugas lapangan. Sebab, kondisi tempat tinggal yang baik juga dapat mendukung kenyamanan petugas dalam menjalankan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
"Walaupun sebenarnya ini cukup luar biasa, tapi saya harap ke depannya mungkin bisa lebih baik lagi," harapnya.
Dia mengapresiasi para petugas yang tetap menjalankan pelayanan kesehatan di tengah keterbatasan fasilitas yang tersedia di Kampung Wapu. (*)
Pewarta: Rachmat J.
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.