REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga membawa dampak langsung terhadap kesehatan dan kehidupan masyarakat. Asap yang menyelimuti sejumlah wilayah mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara petugas pemadam kebakaran terus menghadapi tantangan dalam mengendalikan titik api, khususnya di kawasan lahan gambut.
Kondisi tersebut menggerakkan kepedulian generasi muda melalui kolaborasi Desabumi, Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia, dan teman-teman volunteer, yang bersama para donatur berhasil menghimpun bantuan senilai Rp100 juta untuk mendukung masyarakat terdampak karhutla di Kalimantan Barat.
Pada Jumat, 9 Oktober 2026, seremoni pelepasan relawan dan penyaluran bantuan diselenggarakan secara hybrid, menghubungkan para peserta di Jakarta yang berlokasi di Titik Temu Agora dengan relawan, petugas pemadam kebakaran, mahasiswa, dan masyarakat terdampak di Kalimantan Barat melalui Zoom.
Suasana hangat dan akrab terasa sepanjang kegiatan, meskipun para peserta dipisahkan oleh jarak. Percakapan berlangsung dua arah, diwarnai sapaan, pertanyaan mengenai kondisi masyarakat, serta cerita langsung dari mereka yang menghadapi dampak karhutla. Para peserta di Jakarta mendengarkan pengalaman petugas pemadam dan warga terdampak, sementara para relawan di Kalimantan Barat berbagi persiapan serta tantangan perjalanan yang akan mereka hadapi. Dari percakapan sederhana tersebut, terpancar semangat kebersamaan dan tekad seluruh pihak untuk memastikan bantuan dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dalam dialog bersama petugas pemadam kebakaran, terungkap bahwa salah satu tantangan terbesar penanganan karhutla adalah karakteristik kebakaran di lahan gambut. Titik api sulit diprediksi karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan kembali muncul di lokasi yang berbeda. Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan tinggi, terutama saat musim kemarau, termasuk melalui kegiatan patroli rutin untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.
Pengalaman serupa juga disampaikan Astika Dwi Wulandari, mahasiswa Universitas Tanjungpura yang turut terdampak karhutla. Ia menceritakan bagaimana asap mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Paparan asap tidak hanya terasa ketika beraktivitas di luar rumah, tetapi juga sulit dihindari meskipun berada di dalam ruangan. Astika turut menyampaikan apresiasi atas kebijakan Universitas Tanjungpura yang memberikan kesempatan pembelajaran jarak jauh untuk melindungi mahasiswa dalam situasi tersebut.
Mendengar langsung pengalaman para petugas dan masyarakat terdampak, Gamma A. Thohir, Pendiri Desabumi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Dalam sambutannya, ia mengibaratkan Indonesia sebagai satu tubuh yang setiap bagiannya memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membutuhkan.
"Saya selalu melihat kehidupan kita seperti tubuh manusia. Ada tangan, kaki, mata, dan berbagai organ yang memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membantu. Ketika kaki terluka, tangan secara spontan membantu, mata melihat lukanya, dan pikiran mencari jalan keluar. Begitu juga kita sebagai bangsa Indonesia. Ketika saudara-saudara kita di Kalimantan Barat mengalami kesulitan, kita yang berada di Jakarta ataupun daerah lain harus ikut peduli. Kita ini satu keluarga besar, satu bangsa," ujar Gamma A. Thohir.
Gamma juga menekankan bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki sumber daya besar atau kedudukan tertentu. Menurutnya, setiap individu dapat berkontribusi melalui tenaga, waktu, pikiran, maupun materi.
"Generasi muda tidak cukup hanya pintar, berpendidikan tinggi, atau berhasil dalam pekerjaannya. Mereka juga harus punya hati, kepedulian, dan kemauan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Keberhasilan seseorang bukan hanya dilihat dari apa yang dicapai untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Kalau kita punya kesempatan untuk membantu, jangan pernah ragu-ragu. Kalau kita bisa membantu, ya kita bantu. Sesederhana itu," tambah Gamma.
Sebagai tindak lanjut kegiatan tersebut, pendistribusian bantuan dijadwalkan berlangsung pada 10–13 Oktober 2026, dengan melibatkan relawan dari Desabumi dan Komunitas SRE Tanjungpura. Bantuan akan disalurkan menuju Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, serta Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.