Elephants

Waspada 5 Efek Abu Vulkanik Jika Terhirup Manusia

September 7, 2026

Jakarta, CNBC Indonesia - Letusan gunung api tak hanya mengancam masyarakat melalui aliran lava dan awan panas. Abu vulkanik yang menyebar ke wilayah permukiman juga dapat mengganggu kesehatan, khususnya sistem pernapasan dan mata.

International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN) menjelaskan, abu vulkanik terdiri atas pecahan batuan gunung api berdiameter kurang dari 2 milimeter. Ukurannya bisa menyerupai butiran pasir hingga sangat halus seperti bedak.

Abu biasanya masih panas ketika berada sangat dekat dengan gunung api, tetapi telah mendingin saat jatuh di wilayah yang lebih jauh. Ketika melayang di udara, material tersebut dapat menghalangi sinar matahari, mengurangi jarak pandang, bahkan menyebabkan suasana gelap pada siang hari.

Partikel abu yang baru jatuh juga dapat memiliki lapisan asam yang memicu iritasi paru-paru dan mata. Lapisan tersebut umumnya akan hilang setelah terkena hujan, tetapi air hujan yang membawa abu berpotensi mencemari sumber air di sekitar lokasi.

Meski pada sebagian besar erupsi abu vulkanik hanya menyebabkan relatif sedikit masalah kesehatan serius, dampaknya bisa meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat. Fasilitas kesehatan juga dapat mengalami peningkatan jumlah pasien dengan keluhan pernapasan dan mata selama maupun setelah hujan abu.

Dampak Abu Vulkanik pada Pernapasan

Partikel abu yang sangat halus dapat terhirup hingga masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan dalam jumlah tinggi bahkan bisa membuat orang sehat mengalami rasa tidak nyaman pada dada, batuk, dan iritasi.

Beberapa gangguan pernapasan jangka pendek yang umum terjadi meliputi:

1. Hidung mengalami iritasi dan mengeluarkan cairan.
2. Tenggorokan terasa sakit atau mengalami iritasi, terkadang disertai batuk kering.
3. Batuk berdahak, mengi, atau sesak napas pada orang yang sebelumnya memiliki gangguan paru.
4. Penyempitan dan iritasi saluran napas pada penderita asma atau bronkitis.
5. Napas terasa tidak nyaman.

Dalam kondisi yang jarang terjadi, paparan abu vulkanik halus dalam konsentrasi tinggi selama bertahun-tahun dapat menyebabkan penyakit paru serius. Risikonya dipengaruhi kandungan silika kristalin dalam abu, ukuran partikel, konsentrasi di udara, serta lamanya seseorang terpapar.

Kelompok yang paling berisiko adalah penderita asma, bronkitis, emfisema, gangguan paru lainnya, serta penyakit jantung berat. Anak dengan asma juga dapat mengalami batuk, sesak dada, dan mengi, terutama ketika bermain di luar ruangan saat abu masih beterbangan.

Bisa Melukai Mata dan Mengiritasi Kulit

Iritasi mata menjadi salah satu dampak kesehatan yang paling sering muncul. Butiran abu dapat menggores kornea dan memicu konjungtivitis.

Gejalanya meliputi sensasi seperti ada benda asing di mata, rasa sakit dan gatal, mata merah, berair, keluar cairan lengket, sensitif terhadap cahaya, hingga luka pada kornea.

Pengguna lensa kontak disarankan segera melepasnya saat terjadi hujan abu. Sebagai gantinya, masyarakat bisa menggunakan kacamata biasa atau kacamata pelindung untuk mengurangi risiko iritasi.

Walaupun lebih jarang, abu vulkanik juga bisa menyebabkan kulit memerah dan mengalami iritasi, khususnya jika bersifat asam. Kebiasaan menggaruk bagian yang terasa gatal dapat memicu infeksi sekunder.

Risiko Kecelakaan hingga Atap Roboh

Selain berdampak langsung pada tubuh, hujan abu bisa menimbulkan ancaman tidak langsung. Abu yang beterbangan mengurangi jarak pandang, sedangkan lapisannya membuat jalan menjadi licin dan menutupi marka jalan. Endapan tebal bahkan dapat memutus akses ke sejumlah wilayah.

Hujan abu juga berpotensi menyebabkan pemadaman listrik serta mencemari atau menyumbat instalasi air. Penampungan air terbuka dan tangki yang terhubung dengan talang atap termasuk yang paling rentan.

Endapan abu pada atap juga perlu diwaspadai karena bebannya dapat menyebabkan bangunan roboh. Risiko bertambah ketika seseorang naik ke atap untuk membersihkannya. Sejumlah korban dalam berbagai peristiwa erupsi dilaporkan meninggal akibat terjatuh saat membersihkan abu.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]