Elephants

Pertalite Eceran Sempat Rp 35.000/Botol di Sulsel, Pertamina Pastikan Stok BBM Kini Aman

September 19, 2026

Jakarta -

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) membuat harga BBM eceran jenis pertalite sempat menyentuh Rp 35 ribu/botol. Pertamina memastikan kelangkaan BBM kini sudah terkendali.

Kitty Andhora selaku VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga memastikan, antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Makassar secara bertahap mulai melandai. Perkembangan ini sejalan dengan berbagai upaya optimalisasi pasokan dan pelayanan BBM yang dilakukan PT Pertamina Patra Niaga bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

"Antrean di sejumlah SPBU di Makassar saat ini secara bertahap mulai melandai. Kami terus melakukan berbagai langkah untuk memperkuat pasokan dan pelayanan, serta berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk mendukung kelancaran pelayanan BBM kepada masyarakat," kata Kitty Andhora.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi operasional, Pertamina Patra Niaga terus memperkuat pasokan melalui distribusi mobil tangki yang beroperasi selama 24 jam. Selain itu, sebanyak 25 SPBU di Makassar dioperasikan selama 24 jam untuk memberikan akses pelayanan yang lebih luas kepada masyarakat.

Optimalisasi pelayanan juga dilakukan melalui penambahan nozzle BBM subsidi dan operator di sejumlah SPBU. Pertamina Patra Niaga turut menambah titik distribusi melalui pengoperasian 3 unit SPBU Modular guna mendukung pemenuhan kebutuhan BBM masyarakat.

"Berbagai langkah ini kami lakukan untuk memastikan pasokan dan pelayanan terus berjalan secara optimal. Kami juga terus memantau kondisi di lapangan dan melakukan penyesuaian sesuai kebutuhan, sehingga masyarakat dapat memperoleh BBM dengan lebih lancar," lanjut Kitty.

Pertalite yang umumnya dijual Rp 15 ribu/botol besar, sempat mencapai Rp 35 ribu. Sementara botol ukuran sedang dibanderol sekitar Rp 25 ribu.

Meski harganya naik signifikan, sebagian warga sempat memilih BBM eceran. Sebab, ketika itu, mereka tak ingin menghabiskan waktu berjam-jam mengantre di SPBU.

"Saya tidak masalah beli lebih mahal daripada mengantri berjam-jam. Ini saja sulit bisa dapat," ujar warga Manggala, Makassar, Rahma, dikutip dari Antaranews.

Menurut Rahma, kelangkaan BBM sempat mengganggu aktivitas sehari-hari. Mulai dari mengantar anak ke sekolah, mengunjungi kerabat, hingga kebutuhan pekerjaan.

Dia bahkan memilih menggunakan jasa ojek daring untuk beberapa aktivitas agar tidak terlalu sering menggunakan sepeda motor. Namun, pilihan tersebut membuat pengeluarannya bertambah.

Kenaikan harga juga sempat dirasakan pedagang BBM eceran lain. Muliati, pedagang asal Kabupaten Takalar, mengatakan dirinya pernah harus mengantre sejak dini hari untuk mendapat BBM.

"Sekarang, sudah tidak masalah, yang diberikan Pertalite atau Pertamax yang penting kita menjual karena kalau tidak begitu, mata pencarian kami pedagang kecil akan hilang," tuturnya.

Muliati mengaku, dia pernah mengantre mulai pukul 01.00 hingga 02.40 WITA. Waktu tersebut dipilih karena antreannya relatif lebih singkat dibandingkan siang hari yang bisa mencapai empat hingga lima jam.

(sfn/dry)