Elephants

Wamenkomdigi sebut Indonesia sudah punya fondasi untuk kembangkan AI

September 10, 2026

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menyampaikan bahwa Indonesia sudah punya fondasi penting untuk mengembangkan teknologi digital baru seperti kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).

Menurut dia, fondasi itu mencakup infrastruktur dan konektivitas digital, talenta digital, serta regulasi yang mengakomodir inovasi dan keamanan pengguna.

Dalam acara diskusi "Medcom.id TECHPRESSO Agentic AI, Are We Ready?" di Jakarta Barat, Kamis, dia menyampaikan bahwa saat ini 80,6 persen masyarakat Indonesia sudah menggunakan internet.

"Artinya, penetrasi internet ke tatanan masyarakat di Indonesia sudah mencapai sekitar 234 juta jiwa dari total 270 juta jiwa. Ini saya kira menjadi kekuatan sendiri yang membuat AI bisa bertumbuh," kata Nezar.

Ia menambahkan bahwa layanan akses internet 4G LTE saat ini juga sudah menjangkau 97 persen wilayah Indonesia.

Kondisi yang demikian, menurut dia, memungkinkan warga Indonesia memanfaatkan solusi-solusi yang tersedia di ruang digital, termasuk solusi AI.

Namun, dia mengemukakan perlunya peningkatan akses internet yang berkualitas seperti jaringan fiber optik maupun 5G dengan latensi rendah guna mendukung pemanfaatan dan pengembangan teknologi digital canggih.

Saat ini akses ke jaringan telekomunikasi fiber optik dan internet 5G belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

"Kita terus dorong supaya meningkat paling tidak bisa mendekati hampir 50 persen dalam dua atau tiga tahun ke depan," kata Nezar merujuk pada cakupan layanan internet 5G yang saat ini baru sekitar 10 persen.

"Kenapa itu penting? Karena AI membutuhkan konektivitas yang juga kuat, di mana latensinya rendah, karena ada decision making yang cepat yang harus dilakukan dan data processing-nya pun cepat," ia menjelaskan.

Nezar juga mengemukakan bahwa pengembangan talenta digital merupakan faktor penting dalam upaya membentuk ekosistem AI dengan cakupan luas.

"Kita perlu mendidik generasi muda kita untuk menjadi developer, menjadi inovator di dalam AI ini dan mengambil tempat dalam global supply chain dari industri AI dunia," katanya.

"Jadi kita harus kuasai AI ini buka hanya di pucuknya saja menggunakan mesinnya saja tapi kita juga harus melihat bagaimana ekosistem AI ini berkembang," ia menambahkan.

Selain itu, Nezar menekankan pentingnya regulasi berkenaan dengan pemanfaatan dan pengembangan AI.

Pemerintah menyiapkan regulasi untuk mendorong inovasi teknologi sekaligus memastikan pengembangan teknologi dilakukan secara bertanggung jawab dengan mengedepankan etika.

Pemerintah sudah menerbitkan undang-undang tentang informasi dan transaksi elektronik, undang-undang tentang pelindungan data pribadi, dan surat edaran tentang etika penggunaan AI.

Selain itu, pemerintah sedang menyiapkan peraturan tentang Peta Jalan Nasional AI dan Etika AI.

"Jangan takut dengan regulasi-regulasi yang diciptakan. Tidak ada niat untuk mencekik perkembangan ya," kata Nezar.

"Ini hanya untuk membuat perkembangan teknologi itu bermanfaat bagi semuanya dan risikonya bisa di-mitigasi dan kita bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar," katanya.

Dia mengemukakan bahwa pemanfaatan AI di Indonesia diperkirakan memberikan kontribusi 366 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto pada 2030.