Wamendikdasmen: Lembaga OSIS jadi miniatur bermasyarakat
Senin, 13 Juli 2026 15:58 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat berinteraksi dengan Ketua OSIS dan para murid baru kelas 7 yang mengikuti hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah di SMPN 57, Jakarta Pusat, Senin (13/7/2026). (ANTARA/Hana Dewi Kinarina Kaban)
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat menekankan pentingnya peran lembaga Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai miniatur bermasyarakat dan melatih musyawarah bagi para murid.
Ia menyampaikan penekanan tersebut saat meninjau pelaksanaan hari pertama rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah di SMPN 57 Jakarta Pusat, Senin.
Ia menilai keikutsertaan dalam lembaga OSIS tidak hanya membantu para murid mengenal lebih baik lingkungan sekolah maupun para guru dan tenaga kependidikan, namun juga dapat menjadi media latihan bermasyarakat dan bermusyawarah, sebagai bagian dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH).
“Jadi adik-adik semua nanti ikut kegiatan-kegiatan OSIS sebagai miniatur, bentuk kecil dari bermasyarakat. Sebagai manusia yang bermasyarakat, maka semua harus belajar dari awal bermasyarakat,” kata Atip.
Pada kesempatan itu, ia juga mengusulkan pentingnya kegiatan membaca minimal satu buku dalam satu minggu guna membentuk minat baca sekaligus literasi para murid.
“Nah mungkin apa sudah diterapkan di SMPN 57 Jakarta, ya mudah-mudahan sudah diterapkan. Saya usul tiap Senin umpamanya, semua siswa mungkin harus meminjam buku dari perpustakaan. Bagi yang satu hari sudah selesai membaca satu buku, boleh nanti pinjam lagi. Minimal satu minggu satu buku selesai,” katanya.
Ia menambahkan nantinya para guru dapat membuat satu sesi pertemuan dengan konsep storytelling sebagai wadah bagi para siswa untuk mempresentasi atau menceritakan kembali hasil bacaan mereka.
“Nantinya mungkin ada satu sesi semacam storytelling. Jadi adik-adik nanti menyampaikan apa yang sudah dibaca. Jadi wajib nanti minimal satu minggu satu buku selesai dibaca gitu ya,” kata Atip.
Pewarta : Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026