Mataram (ANTARA) - Wakil Ketua DPRD Nusa Tenggara Barat Lalu Wirajaya mengharapkan kasus tindak kekerasan di lingkungan pendidikan baik yang negeri maupun swasta termasuk pondok pesantren yang ada di wilayah itu tidak berulang kembali.
"Harapan kita ke depan kasus ini tidak terjadi lagi," ujarnya di Mataram, Selasa.
Ia mengatakan segala bentuk ikhtiar telah diupayakan oleh pemerintah daerah bersama legislatif dan pihak terkait lainnya untuk mencegah tindakan asusila di lingkungan pendidikan, tapi ulah oknum kadang tidak bisa diprediksi, dan itu bisa mencoreng nama baik suatu lembaga atau instansi.
Ia menjelaskan meskipun Peraturan daerah (Perda) belum ada yang mengatur tentang hal tersebut, tapi dalam waktu dekat hal itu akan menjadi prioritas, mengingat maraknya kejadian tersebut dan berulang kali dilakukan oleh oknum yang harusnya menjadi contoh bagi para murid atau santri-nya.
"Spesifik setahu saya tentang perda yang mengatur itu belum ada, mungkin ini menjadi pemikiran kita di DPRD, untuk kita atur sebagaimana mestinya, supaya ke depan, tindakan tersebut tidak terjadi lagi," kata Lalu Wirajaya yang akrab disapa LWJ.
Baca juga: Anggota DPRD NTB menyoroti tarif IPR sebesar Rp1,5 juta per hektare
Selain itu, LWJ menyebut sebelumnya telah dilakukan rapat koordinasi (Rakor) bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) NTB, bersama para pemangku kepentingan lainnya, guna membentuk satgas yang spesifikasi menangani masalah tersebut.
"Kemarin kita sudah coba koordinasi bersama Kanwil, lalu terbentuklah satuan tugas (satgas) yang menangani itu," ujarnya.
Ia menambahkan meskipun satgas penindakan kekerasan di lingkungan pendidikan telah terbentuk, tapi kejadian serupa kembali terjadi, menurutnya hal tersebut perlu menjadi perhatian bersama, baik dari pemerintah, legislatif, guru dan orang tua, dan pihak terkait, guna mencegah kejadian yang sama terjadi lagi.
"ini menjadi tamparan buat kita, untuk lebih atensi dan serius walaupun kita sudah lakukan itu," katanya.
Baca juga: DPRD NTB meminta keamanan dan kenyamanan penonton MotoGP jadi prioritas
Untuk itu, ia berharap, kejadian kemarin menjadi kasus terakhir, guna menciptakan suasana aman dan nyaman di lingkungan pendidikan, serta menumbuhkan kepercayaan bagi para orang tua yang sudah mengamanahkan anaknya di lingkungan tersebut.
"Semoga kejadian serupa tidak terjadi lagi, serta lingkungan pendidikan tetap dalam keadaan kondusif," katanya.