Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:00 WIB
Jakarta, VIVA – Informasi mengenai potensi tsunami setinggi 60 meter akibat erupsi Gunung Anak Krakatau viral di media sosial TikTok. Narasi tersebut menyebutkan gunung api di Lampung itu akan mengalami erupsi dahsyat hingga hancur dan hilang, disertai gelombang tsunami yang diperkirakan terjadi pada pagi, siang, atau sore hari.
Baca Juga
Namun, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan informasi tersebut merupakan hoaks. Masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap narasi kebencanaan yang tidak didukung data ilmiah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Badan Geologi menjelaskan, konten yang beredar bukan merupakan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Video tersebut diduga telah disunting sehingga menimbulkan narasi yang berbeda dari informasi aslinya.
Baca Juga
“Unggahan yang disebarkan oleh akun ‘XinShi’ merupakan hasil penyuntingan dari konten asli milik Badan Geologi,” jelas Badan Geologi melalui akun Instagram resminya, Jumat, 9 Oktober 2026.
Klarifikasi ini disampaikan untuk meluruskan informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, terutama karena narasi yang beredar mengaitkan aktivitas gunung api dengan ancaman tsunami berskala besar.
Baca Juga
Viral Tsunami 60 Meter, Ini Fakta Aktivitas Anak Krakatau
Di tengah kabar mengenai tsunami setinggi 60 meter, Badan Geologi menjelaskan bahwa Gunung Anak Krakatau memang mengalami erupsi pada Senin, 5 Oktober 2026.
Erupsi tersebut tercatat terjadi pada pukul 20.28 WIB. Berdasarkan catatan aktivitas gunung api, erupsi memiliki amplitudo maksimum 33 milimeter dengan durasi sekitar 1 menit 1 detik.
Sementara itu, tinggi kolom erupsi tidak teramati. Data tersebut menjadi bagian dari informasi aktivitas vulkanik yang dicatat oleh Badan Geologi.
Fakta mengenai erupsi tersebut berbeda dengan narasi yang beredar di TikTok. Informasi resmi yang disampaikan Badan Geologi tidak menyatakan bahwa Gunung Anak Krakatau akan hancur atau menghilang akibat erupsi, maupun memastikan akan terjadi tsunami setinggi 60 meter pada waktu tertentu.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan catatan aktivitas vulkanik yang terukur dengan klaim mengenai bencana yang tidak didukung informasi resmi.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Status Gunung Anak Krakatau Masih Waspada
Badan Geologi juga menegaskan bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Status Level II atau Waspada.
Halaman Selanjutnya
Status tersebut merupakan tingkat aktivitas gunung api yang perlu menjadi perhatian masyarakat. Meski demikian, status Waspada tidak dapat disamakan dengan klaim bahwa tsunami setinggi 60 meter akan terjadi dalam waktu dekat.