Bagikan:
JAKARTA – Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menyebut keputusan PKB mengusung tema Prabowonomics dalam peringatan Harlah ke-28 merupakan manuver politik untuk mengklaim “legacy politik” Presiden Prabowo Subianto sekaligus membuka kompetisi internal koalisi menuju Pilpres 2029.
Menurut dia, langkah PKB tersebut menunjukkan bila PKB tengah berupaya mengambil posisi paling awal untuk mengidentifikasi diri sebagai partai politik yang paling identik dengan keberhasilan pemerintahan Prabowo.
“PKB sedang melakukan apa yang saya sebut sebagai perebutan political ownership atas Prabowonomics. Ini bukan sekadar mendukung Presiden Prabowo, tetapi berusaha menjadi partai yang paling melekat dengan keberhasilan pemerintahannya. Siapa yang berhasil menguasai narasi itu, dialah yang memiliki peluang terbesar menjadi pewaris politik Prabowo pada 2029,” terang Arifki, Minggu 26 Juli.
Dia menilai, Harlah ke-28 PKB tidak bisa dibaca hanya sebagai agenda seremonial partai. Pemilihan tema Prabowonomics justru menunjukkan bahwa kontestasi menuju Pilpres 2029 telah dimulai lebih cepat dibandingkan yang diperkirakan banyak pihak.
“Kalau diperhatikan, yang sedang berlangsung sekarang bukan kompetisi antara koalisi pemerintah dan oposisi. Yang mulai terbentuk justru kompetisi di dalam tubuh koalisi sendiri. Semua tokoh mulai membangun posisi tawarnya di hadapan Presiden Prabowo, dan PKB menjadi salah satu yang bergerak paling awal,” sambungnya.
BACA JUGA:
Dia mengungkapkan, langkah PKB sekaligus menjadi investasi politik jangka panjang bagi Muhaimin Iskandar. Sebab, dengan tampil sebagai pendukung paling vokal terhadap agenda ekonomi pemerintahan, Cak Imin sedang membangun argumen politik bahwa dirinya layak dipertimbangkan sebagai pendamping Prabowo pada Pilpres 2029.
“Ini bukan soal deklarasi dukungan, melainkan investasi politik. PKB ingin menciptakan persepsi bahwa ketika Prabowo sukses, ada PKB yang ikut menjaga, mengawal, bahkan menjual gagasan Prabowonomics kepada publik. Persepsi seperti ini penting untuk meningkatkan posisi tawar Cak Imin dalam bursa calon wakil presiden,” tutur Arifki.
Selain itu, strategi tersebut juga mengirim pesan kepada partai-partai lain di Koalisi Indonesia Maju Plus bahwa perebutan kursi calon wakil presiden telah dimulai. Karena itu, setiap partai kini berlomba menunjukkan kontribusi politik yang paling besar terhadap keberhasilan pemerintahan.
“Yang diperebutkan sekarang bukan sekadar kursi cawapres. Yang sedang diperebutkan adalah siapa yang paling berhak mengklaim keberhasilan pemerintahan Prabowo selain Gerindra. PKB tampaknya ingin menjadi partai pertama yang mengamankan posisi itu. Ini tentu menjadi kode keras bagi Golkar, PAN, Demokrat, hingga PSI bahwa persaingan menuju 2029 sudah dimulai,” kata Arifki.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+