Elephants

University of Aberdeen dan Undip kembangkan teknologi "recovery lithium"

August 28, 2026

University of Aberdeen dan Undip kembangkan teknologi "recovery lithium"

Jumat, 28 Agustus 2026 20:30 WIB

Image Print

Peneliti dari Universitas Diponegoro Semarang dan University of Aberdeen yang tengah mengembangkan teknologi membran dan material adsorben untuk "recovery lithium" dari subsurface brines. ANTARA/HO-Undip

Semarang (ANTARA) - Peneliti Universitas Diponegoro (Undip) Semarang bersama University of Aberdeen (UoA) Skotlandia mengembangkan teknologi membran dan material adsorben untuk "recovery lithium" dari subsurface brines.

Salah satu peneliti Undip Prof. Dr.rer.nat. Ir. Heru Susanto di Semarang, Jumat, mengatakan riset itu penting di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral kritis untuk industri teknologi tinggi, energi hijau, hingga pertahanan.

Dari Undip, turut terlibat penelitian adalah Ir. Titik Istirokhatun, sedangkan dari University of Aberdeen dilaksanakan oleh Dr. Amin Sharifi dan tim.

Menurut dia, riset tersebut bagian dari kolaborasi internasional yang terjalin sejak 2024 antara Undip dan University of Aberdeen.

Kolaborasi berlangsung melalui pendanaan riset internasional skema International Science Partnerships Fund (ISPF) dalam proyek berjudul "Developing Membrane Technology and Adsorbents for Lithium Recovery from Subsurface Brines: Investigating Diffusion and Adsorption Process with Membrane".

Heru yang juga bertindak sebagai principal investigator dari Undip itu, mengatakan penelitian berfokus pada pengembangan teknologi membran dan material adsorben untuk "recovery lithium" dari subsurface brines.

"Kami mempelajari bagaimana proses difusi dan adsorpsi berlangsung sehingga dapat dikembangkan material yang semakin selektif dan efektif untuk mengambil unsur yang dibutuhkan," katanya.

"Recovery mineral kritis" dan logam tanah jarang merupakan proses pengambilan kembali unsur mineral berharga melalui ekstraksi, pemisahan, dan pemurnian.

Sumbernya, kata dia, dapat berasal dari sumber primer maupun sumber sekunder seperti tailing pertambangan dan sampah elektronik melalui pendekatan "urban mining".

Mineral kritis dan logam tanah jarang merupakan komoditas strategis global, seperti neodimium termasuk logam tanah jarang, sedangkan lithium dan nikel merupakan mineral kritis.

Ia menjelaskan material-material tersebut dibutuhkan untuk berbagai produk modern, mulai dari telepon seluler, baterai kendaraan listrik, teknologi energi hijau, hingga teknologi pertahanan.

Teknologi "recovery", kata dia, menjadi penting karena sumber daya tersebut bersifat tidak terbarukan.

"Ke depan, kita tidak bisa hanya berpikir mencari sumber mineral baru. Kita juga harus memiliki kemandirian teknologi untuk mengambil kembali unsur berharga dari sumber yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk sumber sekunder," katanya.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.