Bengkulu (ANTARA) - Universitas Bengkulu (Unib) mengukuhkan enam guru besar untuk memperkuat kapasitas akademik sekaligus meningkatkan kontribusi perguruan tinggi tersebut sebagai kampus yang berdampak.
"Jumlah guru besar menjadi indikator kinerja bagi semua perguruan tinggi. Dengan dikukuhkannya enam guru besar ini, mudah-mudahan dapat memperkuat kontribusi Universitas Bengkulu untuk menjadikan kampus ini sebagai kampus yang berdampak, baik di tingkat daerah, nasional, maupun global," kata Rektor Unib Prof Indra Cahyadinata usai pengukuhan guru besar di Bengkulu, Rabu.
Baca juga: Unib targetkan miliki 100 guru besar di akhir 2026
Enam guru besar yang dikukuhkan berasal dari berbagai bidang keilmuan, yakni Prof Fahrudin JS Pareke di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Prof Amacik di bidang Hukum Pemilu.
Kemudian Prof Evi Maryanti di bidang Kimia Anorganik, Prof Slamet Widodo di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, Prof Emilia Contessa di bidang Hukum Tanah Adat, serta Prof Hendri Hestiawan di bidang Teknologi Komposit.
Dengan penambahan tersebut, jumlah guru besar di Unib kini mencapai 92 orang atau sekitar 10 persen dari total 919 dosen yang dimiliki perguruan tinggi negeri tersebut.
Menurut dia, guru besar tidak hanya mencerminkan pencapaian akademik seorang dosen, tetapi juga menjadi representasi kapasitas institusi dalam menghasilkan riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dia berharap keenam guru besar yang baru dikukuhkan dapat terus melahirkan karya ilmiah, pemikiran, dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta berkontribusi terhadap pembangunan daerah maupun nasional.
Pengukuhan enam guru besar tersebut juga menambah kekuatan akademik Unib dalam berbagai bidang ilmu, mulai dari manajemen sumber daya manusia, hukum pemilu, kimia organik, hukum tanah adat, hingga teknologi komposit.
Pewarta: Boyke Ledy Watra
Uploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.