Pangkalpinang (ANTARA) - Program Studi Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung (UBB) kembali melangsungkan kelas internasional dengan kolaborasi bersama Eurasia Foundation, yang rutin dilaksanakan setiap tahun di semester gasal.
Keterangan rilis yang diterima di Pangkalpinang, Senin (7/9), menyebutkan kelas internasional tahun ini mengusung tema utama “Bridging Mutual Interests: Discovering a Harmonic Prosperity in the Eurasia Community” dengan menghadirkan narasumber seorang sejarawan sekaligus budayawan terkenal di Kepulauan Bangka Belitung, yakni Dato’ Akhmad Elvian.
Di kesempatan itu Dato’ Akhmad Elvian berbicara tentang migrasi yang pernah terjadi di wilayah Semenanjung Malaka dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan antar etnis kala itu hingga saat ini. Tentu, Kepulauan Bangka Belitung sebagai wilayah yang menjadi jembatan bagi berbagai etnis dan kepentingan bangsa-bangsa di Semenanjung Malaka.
"Jenis migrasi yang pernah terjadi, yakni ada yang disebut sebagai migrasi jangka pendek dan ada yang Beliau sebut sebagai migrasi jangka panjang," kata Dato Elvian.
Dua jenis migrasi ini, masing-masing
memiliki pengaruh terhadap konteks sosial budaya maupun sosial politik masyarakat ketika itu dan bahkan hingga saat ini.
Dari momen migrasi jangka pendek, di Bangka Belitung pernah menerima migrasi para bajak laut yang kemudian menyebabkan pembentukan corak perkampungan yang dikeliling Benteng dan parit-parit, serta rumah pemimpin diposisikan di tengah dalam format bujur sangkar.
Ia menegaskan beberapa etnis migrasi jangka pendek ke Pulau Bangka dulunya karena didorong oleh kepentingan ekonomi dan politik. Pada pembahasan Migrasi Jangka Panjang, Dato Elvian fokus membahas bagaimana datangnya orang-orang yang disebut sebagai orang yang berbahasa austronesia yang datang dari wilayah Asia Timur bagian Selatan sekitar tahun 1500-500 sebelum masehi.
"Inilah nenek moyang atau penduduk awal pribumi di Pulau Bangka dan Belitung, sebagai Deutro melayu (melayu nuda), dimana mereka yang bermigrasi ini kemudian yang hidup dengan sebagiannya menyebar di wilayah darat dan gunong, serta yang lainnya di wilayah pesisir atau laut," ujarnya.
Inilah cikal bakal terbentuknya komunitas masyarakat “Orang Darat” dan “Orang Laut” di Pulau Bangka dan Belitung. Bangsa Deutro Melayu memiliki peradaban yang maju dalam bidang astronomi, pelayaran dan bercocok tanam serta teknologi perundagian.
"Pada masa ini sudah dikenal teknik
peleburan, percampuran, penempaan dan pencetakan jenis-jenis logam seperti tembaga, timah, perunggu, besi dan bahkan emas," terang Dato’ Alvian.
Beliau juga menceritakan bagaimana gelombang Migrasi orang-orang Tionghoa ke Indonesia dan juga Bangka Belitung yang terjadi melalui berbagai gelombang. Bagaimana kedatangan Tionghoa ke Bangka Belitung terutamanya karena terkait dengan kepentingan rezim yang berkuasa saat itu untuk mengeksplorasi timah.
Selain itu, Dato’ Alvian menyebutkan kalau orang Tionghoa yang datang ke Bangka Belitung tidak semuanya langsung datang dari negeri Tiongkok.
"Orang-orang Tionghoa datang ke Pulau Bangka dan Belitung melalui fase Migrasi yang berlipat atau banyak gelombang, dan tidak semua gelombang Migrasi ini mendatangkan penduduk Tioghoa yang langsung dari negeri Tiongkok. Misalnya, di gelombang 1 dan 2 mereka datang dari wilayah perantauan lainnya yang berada diseputaran Semenanjung Malaka," ujarnya.
Terakhir, migrasi yang cukup besar pengaruhnya ke Pulau Bangka adalah migrasi orang-orang melayu kerabat dari Sultan yang memimpin negeri Johor dan juga berasal dari wilayah Palembang. Mereka bermukim di wilayah Barat, Utara, Tengah dan Selatan Pulau Bangka.
Pada sesi kedua kelas internasional ini diikuti dengan antusias oleh peserta yang dapat dilihat banyaknya mereka yang penasaran dan bertanya kepada Dato’ Alvian sebagai narasumber.
Beberapa peserta bertanya mengenai ketersebaran dan peninggalan artefak dari orang-orang Jepang dan Eropa yang pernah hidup di Bangka. Ada juga yang bertanya terkait bagaimana perlakuan rezim pemerintahan ketika itu kepada para warga lokal dan mereka yang berasal dari etnis yang sama dengan pemimpin rezim ketika itu.
Pewarta: Elza Elvia
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.