Elephants

Turis Membeludak, Porter Pantai Tulamben Banjir Order

August 31, 2026

Jakarta -

Para porter atau pramuantar di Pantai Tulamben, Karangasem, Bali, 'panen' saat libur akhir pekan lalu. Area itu dibanjiri turis asing yang hendak diving di perairan Tulamben.

Mereka bergegas mendekat kala mobil-mobil pembawa turis asing itu. Para porter itu mendekat untuk membawakan berbagai peralatan diving ke bibir pantai, seperti tabung oksigen, pakaian, dan sebagainya.

Tak ada yang berebut. Masing-masing sudah punya perusahaan yang diajak bekerja sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Musim panas ini, turis memang tengah ramai mendatangi Pantai Tulamben untuk menikmati keindahan bawah laut. Musim ramai (high season) menjadi berkah bagi para pencari rezeki di kawasan Pantai Tulamben, termasuk pramuantar.

"Kalau wisatawan ramai kami dapat lebih. Kalau sepi yang sedikit kami dapat uang," ucap salah satu porter, Ni Kadek Mustini, ketika ditemui di Pantai Tulamben, Minggu (30/8/2026), dikutip dari detikBali.

Ada empat kelompok pramuantar di Pantai Tulamben. Sebagian besar merupakan perempuan. Mereka bekerja dengan mengenakan baju biru lengan panjang bertuliskan 'Tulamben porter'.

Mustini bercerita, ketika wisatawan ramai, porter di Pantai Tulamben dapat penghasilan sekitar Rp 105 ribu dalam sehari. Penghasilan bahkan bisa mencapai Rp 225 sehari saat wisatawan sangat-sangat ramai.

Namun, cuan yang didapatkan para pramuantar tentu tak menggembirakan ketika Pantai Tulamben sepi dari turis. Porter bisa cuma mendapatkan penghasilan Rp 30 ribu saja. Sebab, upah yang mereka dapat hanya Rp 15 ribu dalam sekali angkut peralatan diving.

Pramuantar lain, Ni Nengah Jesani, mengungkapkan berbagai suka dan duka menjadi porter di Pantai Tulamben. Suka yang dirasakan tentu kala Pantau Tulamben ramai didatangi turis karena penghasilan yang didapat jadi lebih banyak.

Situasi berbalik ketika Pantai Tulamben sepi. Jesani dan para porter lain bisa tak berpenghasilan karena perusahaan yang diajak bekerja sama tidak mendapat wisatawan.

"Saat dapat penghasilan sedikit bahkan kadang tidak dapat, kami hanya bisa pasrah," ujar Jesani.

Jesani, Mustini, dan pramuantar lain biasanya bekerja di Pantai Tulamben sejak pagi. Bahkan, sebelum para turis datang, mereka terlebih dahulu membersihkan sampah di sekitar pantai. Mereka baru pulang ke rumah pada sore hari.

"Semoga wisatawan yang datang ke Pantai Tulamben selalu ramai, karena ini merupakan pekerja kami satu-satunya," kata Jesani penuh harap.

Kepala Desa (Kades) Tulamben, I Nyoman Pica, juga berharap kunjungan turis ke Pantai Tulamben kian ramai, terutama saat high season. Musababnya, banyak pihak yang diuntungkan dari kedatangan para turis, mulai dari pemandu diving, sopir, porter hingga pedagang di sekitar Pantai Tulamben.

Namun, menurut Pica, turis-turis baru ramai didatangi turis saat pertengahan tahun. Kedatangan turis biasanya kembali sepi saat memasuki musim hujan.

"Saat ini memang ramai karena high season dan cuaca bersahabat. Jadi wisatawan nyaman melakukan aktivitas diving," kata Pica.

Selain cuaca, kondisi laut Tulamben juga mempengaruhi jumlah kedatangan wisatawan untuk diving. Sekitar dua minggu lalu misalnya, wisatawan yang datang sedikit karena air laut keruh dan ombak sangat besar.

"Kunjungan wisatawan tergantung kondisi di lapangan, jadi tidak selalu ramai tiap hari meski sedang masa high season," ujar Pica.

(fem/fem)