Elephants

Trump Kritik ExxonMobil dan Chevron Raup Untung Besar dari Perang AS-Iran, Minta Harga BBM untuk Warga AS Diturunkan

August 4, 2026

"Saya tidak menyukainya. Chevron, terlalu banyak uang. ExxonMobil, juga terlalu banyak. Terlalu banyak keuntungan," kata Trump kepada wartawan.

Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena selama ini Trump dikenal sebagai pendukung kuat industri minyak dan gas Amerika Serikat.

Trump Desak Perusahaan Minyak Turunkan Harga BBM

Trump menegaskan perusahaan-perusahaan energi seharusnya tidak hanya menikmati lonjakan keuntungan saat harga minyak naik, tetapi juga membantu meringankan beban masyarakat.

"Mereka harus menurunkan harga di tingkat konsumen," ujar Trump.

Ia bahkan optimistis harga minyak dunia akan turun drastis apabila konflik antara Amerika Serikat dan Iran berakhir.

Meski demikian, harga bensin di Amerika Serikat saat ini masih bertahan di kisaran USD4,10 per galon, atau naik lebih dari 30 persen sejak pecahnya konflik Iran pada awal tahun.

Trump Sindir Bos Chevron

Sebelumnya pada hari yang sama, Trump juga menyindir CEO Chevron Mike Wirth setelah tampil dalam sebuah wawancara di Fox News.

Melalui platform Truth Social, Trump menilai Wirth tidak memberikan penghargaan atas kebijakan pemerintahannya yang dinilai telah membantu industri energi Amerika.

Trump mencontohkan kebijakan yang membuat Chevron kembali memperoleh peluang bisnis di Venezuela setelah sebelumnya keluar dari negara tersebut.

Industri Minyak Sebut Harga Dipicu Konflik Timur Tengah

Menanggapi kritik Trump, American Petroleum Institute (API), organisasi yang mewakili perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat, menegaskan bahwa tingginya harga energi bukan disebabkan oleh satu perusahaan tertentu.

Menurut API, kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh kondisi pasar global, mulai dari ketidakseimbangan pasokan dan permintaan hingga ketidakpastian di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.

Harga BBM Jadi Ancaman Politik bagi Trump

Lonjakan harga bensin kini menjadi tantangan politik bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu (midterm election) yang akan menentukan kendali atas Kongres Amerika Serikat.

Pemerintah khawatir mahalnya harga bahan bakar dan meningkatnya biaya hidup dapat mengurangi dukungan terhadap Partai Republik.

Sejumlah survei terbaru menunjukkan elektabilitas Trump mengalami penurunan. Salah satu jajak pendapat mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Trump berada di angka 35 persen, sementara survei Reuters/Ipsos menunjukkan 42 persen pemilih terdaftar akan memilih Partai Demokrat dibanding 37 persen yang mendukung Partai Republik apabila pemilu digelar saat ini.

Konflik Iran Picu Lonjakan Harga Energi

Harga bensin di Amerika Serikat telah meningkat lebih dari 25 persen sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memanas pada Februari lalu.

Trump sebelumnya menyatakan operasi militer terhadap Iran bertujuan melemahkan program nuklir Teheran serta mengurangi ancaman terhadap sekutu-sekutu Washington di Timur Tengah.

Namun, perang yang berkepanjangan justru mendorong harga minyak dunia naik dan berdampak langsung pada biaya energi yang harus ditanggung masyarakat Amerika.

Sumber: Thearabweekly