INDONESIA memiliki posisi strategis dalam jaringan perdagangan global. Namun, data empirik dan hasil penelitian terbaru menunjukkan, besarnya jumlah pelabuhan yang berstatus internasional belum secara otomatis mencerminkan efektivitas sistem pelabuhan internasional Indonesia.
Dari 144 pelabuhan berstatus internasional, pada 2025 hanya 73 pelabuhan (50,69%) yang tercatat aktif melakukan ekspor dan 63 pelabuhan (43,75%) aktif melakukan impor.
Pada saat yang sama, arus perdagangan masih terkonsentrasi pada sejumlah pelabuhan utama. Fakta ini memperlihatkan adanya gap antara status administratif, fungsi aktual, konektivitas, dan kinerja pelabuhan.
Berangkat dari temuan tersebut, berdasarkan hasil FGD dan research yang dilakukan, merekomendasikan implementasi Integrated International Port Effectiveness Model (IIPEM) sebagai kerangka untuk melihat pelabuhan internasional bukan secara individual, tetapi sebagai satu sistem jaringan nasional yang terintegrasi, berbasis fungsi dan kinerja.
IIPEM dibangun melalui enam kapabilitas strategis:
Strategic Port Governance — regulasi, kelembagaan, koordinasi, dan performance-based governance.
Maritime Connectivity — direct call, jaringan pelayaran, frekuensi, dan integrasi koridor maritim.
Hinterland & Economic Integration — keterhubungan pelabuhan dengan industri, kawasan ekonomi, multimoda, dan cargo base.
Operational Efficiency — produktivitas, utilisasi, waktu pelayanan, biaya, dan reliabilitas.
International Trade Facilitation — CIQP, single submission, risk management, dan integrasi data.
Digital, Sustainable & Resilient Port — smart port, digitalisasi, dekarbonisasi, dan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Melalui IIPEM, paradigma pengembangan pelabuhan internasional diarahkan dari “how many international ports do we have?” menuju pertanyaan yang lebih fundamental: “what function should each port perform, how effectively does it perform, and how does it contribute to the national trade network?”
Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih di Kawasan Wisata
Karena itu, IIPEM merekomendasikan functional and network-based port hierarchy: National Global Hub Port, International Gateway Port, International Specialized Port, International Supporting Port, serta Domestic Feeder & Consolidation Port.
Hierarki ini tidak bersifat statis. Posisi setiap pelabuhan perlu dievaluasi secara periodik berdasarkan kinerja, konektivitas, kekuatan hinterland, cargo base, serta kontribusinya terhadap perdagangan.