Gempa tidak bisa dihentikan, tetapi risiko korban akibat keruntuhan bangunan dapat dikurangi melalui perencanaan struktur dan fondasi yang tepat.
Surabaya (ANTARA) - Tokoh peduli inovasi teknologi sekaligus CEO Kawoong Innovation Hadi Wardoyo menilai mitigasi gempa bumi harus dimulai sejak tahap perencanaan bangunan, bukan hanya saat bencana terjadi.
Menurut Hadi, gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi pengingat bahwa Indonesia berada di kawasan rawan gempa sehingga keselamatan bangunan harus menjadi prioritas utama dalam setiap proses pembangunan.
"Gempa tidak bisa dihentikan, tetapi risiko korban akibat keruntuhan bangunan dapat dikurangi melalui perencanaan struktur dan fondasi yang tepat," kata Hadi dalam keterangannya, Jumat.
Ia menjelaskan salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Konstruksi Jaring Rusuk Beton (KJRB), penyempurnaan dari teknologi Konstruksi Sarang Laba-Laba (KSLL) karya anak bangsa. Sistem tersebut dirancang untuk meningkatkan kekuatan sekaligus fleksibilitas fondasi dalam meredam energi guncangan gempa.
Menurutnya, teknologi fondasi yang mampu menyalurkan beban gempa secara lebih merata dapat mengurangi risiko keretakan maupun keruntuhan bangunan sehingga meningkatkan keselamatan penghuni dan menekan biaya perbaikan pascabencana.
Hadi menegaskan inovasi konstruksi harus menjadi bagian dari strategi mitigasi yang lebih luas, meliputi penerapan standar bangunan tahan gempa, evaluasi bangunan eksisting, peningkatan literasi kebencanaan, serta penyediaan jalur evakuasi yang memadai.
Sejumlah akademisi juga menilai sistem KJRB layak diterapkan di wilayah rawan gempa.
Pakar Geologi dan Kegempaan Universitas Andalas Badrul Mustafa Kemal menyebut teknologi tersebut sesuai untuk kawasan dengan kondisi tanah lunak, sedangkan pakar struktur Institut Teknologi Bandung Ivindra Pane menilai integritas fondasi menjadi faktor penting dalam mendistribusikan energi gempa guna mencegah keruntuhan bangunan.
Hadi menambahkan Indonesia tidak boleh menunggu bencana berikutnya untuk memperkuat sistem mitigasi.
Menurut dia, kesiapsiagaan harus dibangun melalui inovasi, kualitas konstruksi, dan budaya keselamatan agar risiko korban jiwa akibat gempa dapat ditekan.
Pewarta: Faizal Falakki
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.