- IHSG dan rupiah kompak melemah pada perdagangan Kamis, sementara harga SBN relatif stabil.
- Wall Street berakhir beragam, Dow Jones ambruk tiga hari
- Kebijakan stabilisasi rupiah, sinergi BI-Kementerian Keuangan hingga jelang pengumuman data ekonomi AS akan menjadi perhatian pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kembali tertekan pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah kompak melemah, sementara imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak stagnan.
Memasuki perdagangan terakhir pekan ini Jumat (25/9/2026), pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu bangkit. Selengkapnya mengenai sentimen yang akan menggerakkan pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG ditutup turun 76,31 poin atau 1,20% ke level 6.298,61. Pelemahan tersebut membalikkan penguatan sehari sebelumnya, ketika indeks melesat 1,56% ke posisi 6.374,91.
Indeks sudah berada di zona merah sejak awal perdagangan dengan dibuka pada level 6.364,98. IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.368,57, tetapi tidak mampu kembali ke posisi penutupan sebelumnya.
IHSG kemudian turun cepat beberapa menit setelah perdagangan dimulai. Indeks sempat berusaha bangkit ke kisaran 6.340-6.350 pada pagi kemarin, tetapi kenaikan tersebut tidak bertahan.
Tekanan jual semakin kuat menjelang tengah hari dan berlanjut hingga sesi kedua. IHSG pun menyentuh level terendah harian di 6.287,46.
Setelah itu, indeks bergerak di kisaran 6.290-6.310 hingga sore hari. IHSG sempat kembali berada di atas 6.300 menjelang penutupan, sebelum akhirnya mengakhiri perdagangan sedikit di bawah level tersebut.
Mayoritas saham ditutup melemah. Sebanyak 487 saham berakhir di zona merah, sedangkan 198 saham menguat dan 278 saham lainnya tidak bergerak.
Vvolume perdagangan mencapai sekitar 29,3 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp11,2 triliun.
Investor asing terpantau kembali melakukan aksi jual, dengan total net sell asing mencapai Rp1,49 triliun di seluruh pasar.
Dari pasar mata uang, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,51% atau 90 poin ke posisi Rp17.885/US$, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.795/US$.
Tekanan sudah terlihat sejak awal perdagangan ketika rupiah dibuka melemah 0,22% di posisi Rp17.835/US$. Pelemahannya kemudian membesar hingga dolar AS sempat menyentuh Rp17.900.
Menjelang penutupan, rupiah berhasil memangkas pelemahannya sebesar 15 poin dari posisi terendah tersebut dan mengakhiri perdagangan di level Rp17.885/US$.
Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 101,061. Meski terkoreksi, DXY masih bertahan di atas level 101 setelah melonjak 0,49% pada perdagangan sebelumnya.
Dari pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun ditutup tidak berubah di level 7,008%. Dengan yield yang bergerak stagnan, harga SBN tenor tersebut juga relatif stabil.