Padang (ANTARA) - Universitas Andalas (Unand) Padang menggelar The 5th International Conference on Disaster Management (ICDM) 2026 yang fokus membahas urgensi integrasi kearifan lokal ke dalam sistem kebencanaan modern.
Langkah memasukkan nilai-nilai tradisional ke dalam riset akademis dan kebijakan praktis tersebut dinilai sangat krusial. Upaya ini dilakukan untuk mendekatkan masyarakat pada mitigasi bencana sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kewaspadaan dini.
Gubernur Sumatra Barat yang diwakili oleh Asisten II Setda Provinsi Sumbar, Yozarwardi, menyatakan bahwa fokus utama konferensi internasional kali ini bertumpu pada kolaborasi teknologi dan kearifan lokal untuk mengurangi risiko bencana.
Menurut Yozarwardi, penanggulangan bencana di era modern tidak hanya membutuhkan kecanggihan teknologi semata. Manajemen kebencanaan juga memerlukan kekuatan nilai lokal agar potensi dampak buruk saat bencana melanda dapat diantisipasi.
Pemerintah Provinsi menegaskan bahwa Sumatra Barat memiliki kekayaan kearifan lokal yang masif dan telah teruji oleh waktu. Diharapkan, konferensi ini mampu memberikan masukan serta rekomendasi strategis bagi kebijakan mitigasi pemerintah ke depan.
Pada kesempatan yang sama, Counsellor for Knowledge, Innovation and Knowledge Kedutaan Australia, Paula Gerhardt, mengamini pentingnya kerja sama tersebut. Ia menyebutkan bahwa membangun ketangguhan terhadap bencana merupakan sebuah upaya bersama.
Paula menekankan perlunya kemitraan yang kuat dan mengikat dari berbagai unsur pemangku kepentingan. Hubungan ini harus menyinergikan gerak pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, hingga berbagai organisasi kemanusiaan lainnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya proses hilirisasi riset di dunia kebencanaan. Seluruh bukti ilmiah dan hasil penelitian yang dihasilkan oleh akademisi harus dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memberikan dampak langsung di lapangan.
Perwakilan Kedutaan Australia tersebut menggarisbawahi bahwa ketangguhan yang berkelanjutan idealnya dipimpin dan dimiliki oleh masyarakat setempat. Teknologi dan dukungan dari luar tentu dapat membantu, namun solusi terjitu tetap dirancang berdasarkan pengetahuan lokal.
Prinsip kemandirian lokal ini menjadi landasan penting dalam hubungan bilateral antara Australia dan Indonesia. Salah satu implementasi nyatanya bergerak melalui kemitraan strategis dalam program kesiapsiagaan bencana bernama SIAP SIAGA.
Kemitraan ini dibangun atas dasar komitmen untuk saling belajar dan berbagi pengalaman. Pihak Australia menegaskan komitmennya untuk melihat setiap pengetahuan yang diproduksi di universitas diwujudkan dalam aksi nyata yang menyentuh masyarakat.
Dr. Rustian menekankan bahwa kearifan lokal menyimpan ingatan kolektif masyarakat dan pengalaman empiris yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam penyusunan strategi mitigasi bencana.
Lebih lanjut, Sestama BNPB tersebut mendorong para akademisi agar riset ilmiah dan pengembangan teknologi diselaraskan dengan kearifan lokal, sehingga sistem kebencanaan nasional dapat memberikan manfaat nyata yang langsung dirasakan oleh masyarakat luas.
Ia juga mendesak dilakukannya penguatan serius pada aspek pengurangan risiko bencana di fase pra-bencana, bukan sekadar berfokus pada penanganan pasca-bencana, mengingat ancaman bencana alam kerap kali terjadi secara berulang.
Sebagai langkah konkret merawat memori kolektif, Dr. Rustian menyarankan pembangunan monumen sejarah fisik di lokasi terdampak sebagai pengingat abadi bagi masyarakat bahwa bencana serupa pernah terjadi dan berpotensi terulang kembali.
Di sisi lain, Rektor Universitas Andalas, Efa Yonedi, menegaskan bahwa perguruan tinggi wajib mengambil peran sebagai ruang publik strategis yang mempertemukan pengetahuan teoritis, inovasi, kebijakan regulasi, serta praktik riil di lapangan.
Efa Yonedi berharap ICDM 2026 dapat menjadi ruang dialog interdisipliner yang mampu memperkaya basis pengetahuan kebencanaan nasional, sekaligus menyumbang rekomendasi masukan saintifik yang solid bagi kebijakan pemerintah.
Rektor Unand memungkasi bahwa kontribusi nyata institusinya diwujudkan lewat peningkatan kapasitas SDM melalui Pendidikan Magister Manajemen Bencana, serta riset interdisipliner mendalam karena meskipun bencana bisa berulang, penyebabnya kerap kali berbeda.*