Minggu, 16 Agustus 2026 - 20:53 WIB
VIVA – Setiap hubungan pasti pernah melewati masa sulit. Pertengkaran, perbedaan pendapat, masalah finansial, tekanan pekerjaan, hingga perubahan dalam kehidupan dapat menguji seberapa kuat sebuah pasangan mempertahankan hubungan.
Baca Juga
Namun, pasangan yang mampu melewati masa sulit tanpa berpisah biasanya memiliki pola tertentu dalam menjaga hubungan. Salah satunya adalah memahami bagaimana pikiran dan perilaku seseorang dapat terbentuk melalui pengalaman bersama.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam psikologi, terdapat sejumlah prinsip yang berkaitan dengan suggestibility, yaitu sejauh mana seseorang terbuka terhadap pengaruh atau masukan dari pasangannya. Jika diterapkan secara sehat dan saling menghargai, prinsip ini dapat membantu membangun hubungan yang lebih kuat. Melansir dari YourTango, berikut lima prinsip yang bisa diterapkan pasangan untuk menghadapi masa sulit.
Baca Juga
1. Hukum Asosiasi: Ciptakan lebih banyak pengalaman positif
Pengalaman yang terjadi berulang kali bersama seseorang dapat membentuk asosiasi tertentu dalam pikiran. Artinya, ketika pasangan lebih sering mengalami momen menyenangkan bersama, kehadiran satu sama lain dapat semakin erat dikaitkan dengan rasa nyaman dan bahagia.
Baca Juga
Sebaliknya, jika interaksi sehari-hari didominasi pertengkaran, kritik, atau sikap saling mengabaikan, hubungan dapat secara perlahan diasosiasikan dengan emosi negatif.
Karena itu, pasangan sebaiknya tetap menyisihkan waktu untuk melakukan aktivitas menyenangkan. Memasak bersama, bepergian, mencoba hobi baru, mengobrol santai, atau sekadar membuat pasangan tertawa bisa menjadi cara sederhana memperkuat ikatan emosional.
2. Hukum Pengulangan: Biasakan perilaku positif
Hubungan yang sehat tidak dibangun hanya melalui satu tindakan romantis. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang justru memiliki pengaruh besar.
Mengucapkan terima kasih, mendengarkan ketika pasangan berbicara, meminta maaf setelah bertengkar, menunjukkan perhatian, serta berbagi pekerjaan rumah dapat menjadi kebiasaan positif.
Masalahnya, pola negatif juga bisa terbentuk dengan cara yang sama. Kebiasaan menyalahkan, bersikap defensif, meremehkan pasangan, atau memilih diam setiap kali menghadapi masalah dapat menjadi respons otomatis.
Karena itu, pasangan perlu menyadari pola yang terus berulang dan berusaha menggantinya dengan perilaku yang lebih sehat.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
3. Hukum Dominasi: Jangan biarkan sisi negatif menguasai hubungan
Dalam hubungan, sifat atau perilaku yang paling dominan dapat memengaruhi suasana keseluruhan. Misalnya, jika salah satu pasangan selalu ingin menentukan keputusan sendiri, pasangan lainnya lama-kelamaan dapat merasa tidak dihargai.
Halaman Selanjutnya
Hal serupa dapat terjadi jika kritik dan kemarahan menjadi karakter paling menonjol dalam komunikasi.