Elephants

Tempo Scan Group dan SBP Group Bentuk Joint Venture, Targetkan Perluas Akses Obat Inovatif di Indonesia

July 25, 2026

Tempo Scan Group dan SBP Group Bentuk Joint Venture, Targetkan Perluas Akses Obat Inovatif di Indonesia

Perbesar

Seremoni penandatanganan Akta Pendirian PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) di Tempo Scan Tower, Jakarta, Jumat (24/7/2026). (Sumber: Tempo Scan Group)

Liputan6.com, Jakarta - PT Tempo Scan Pacific Tbk (Tempo Scan Group) resmi menjalin kerjasama joint venture dengan Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group Co., Ltd (CTTQ), anak perusahaan Sino Biopharmaceutical Limited (SBP Group), salah satu perusahaan farmasi berbasis riset dan inovasi terkemuka di Tiongkok. Kemitraan strategis jangka panjang tersebut diwujudkan melalui pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) yang akan berfokus pada pengembangan specialty pharmaceutical dan innovative medicine di Indonesia.

Pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) ditandai dengan penandatanganan akta pendirian perusahaan oleh Presiden Direktur PT Tempo Scan Pacific Tbk I Made Dharma Wijaya bersama President International SBP Group Philip Duong di Tempo Scan Tower, Jakarta, Jumat (24/7/2026). 

Prosesi tersebut disaksikan Executive Chairman & Co-founder Tempo Scan Group Handojo S. Muljadi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Rizka Andalusia, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong, serta Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie.

Executive Chairman & Co-founder Tempo Scan Group, Handojo S. Muljadi, mengatakan penandatanganan kerjasama Joint Venture dengan SBP Group merupakan langkah strategis Tempo Scan dalam memperkuat bisnis biotechnology dan specialty pharmaceutical perusahaan, sekaligus memperluas akses pasien Indonesia terhadap obat-obatan yang modern dan inovatif. 

“Melalui kemitraan ini, kami berharap dapat memperluas akses dan pilihan obat bagi pasien di Indonesia, khususnya untuk mendapatkan obat-obatan berkualitas tinggi dengan harga yang lebih terjangkau, sekaligus berperan dalam pengembangan industri farmasi nasional, melalui kolaborasi dengan mitra global yang memiliki kapabilitas riset dan inovasi yang kuat," ujarnya.

Pada tahap pertama, TCBI akan memprioritaskan pembangunan organisasi, pengembangan pasar, pemenuhan persyaratan regulasi, penyediaan modal kerja, hingga pelaksanaan studi klinis bersama komunitas medis untuk mendukung komersialisasi obat secara bertanggung jawab.

Selanjutnya, perusahaan akan mengevaluasi pelaksanaan alih teknologi dan produksi obat di dalam negeri dengan memanfaatkan fasilitas manufaktur yang telah dimiliki Tempo Scan Group. Handojo menilai strategi tersebut menjadi pembeda dibandingkan kerjasama farmasi dalam bentuk lisensi maupun distribusi. Menurutnya, model lisensi dan distribusi umumnya bersifat jangka pendek, sedangkan joint venture memungkinkan pembentukan perusahaan permanen di Indonesia yang disertai investasi modal, pembagian risiko, tata kelola bersama, hingga penyusunan roadmap transfer teknologi menuju manufaktur lokal.

Menggabungkan Kekuatan Inovasi Global dan Ekosistem Bisnis Nasional

Handojo S. Muljadi

Perbesar

Executive Chairman & Co-founder Tempo Scan Group, Handojo S. Muljadi. (Sumber: Tempo Scan Group)

Sino Biopharmaceutical Limited atau dikenal juga dengan SBP Group merupakan salah satu perusahaan farmasi berbasis riset dan pengembangan (R&D) terbesar di Tiongkok. Perusahaan memiliki kapabilitas yang mencakup penelitian, manufaktur, hingga komersialisasi obat inovatif, produk biologis, dan obat bermerek, dengan portofolio di bidang onkologi, kardiometabolik, respirasi, serta specialty care.

Di sisi lain, Tempo Scan Group sebagai perusahaan 100% Indonesia memiliki ekosistem bisnis terintegrasi dan salah satu yang terbesar di Indonesia, mulai penelitian dan pengembangan, manufaktur, hingga distribusi. Saat ini, Tempo Scan Group mengoperasikan 16 fasilitas produksi dan didukung 238 jaringan distribusi yang menjangkau berbagai wilayah Indonesia. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu kekuatan perusahaan dalam memastikan ketersediaan produk farmasi dan kesehatan bagi masyarakat.

Selama lebih dari tujuh dekade, Tempo Scan juga telah menghadirkan berbagai merek yang dikenal luas, seperti bodrex, hemaviton, NEO rheumacyl, Oskadon, MY BABY, Marina, hingga vidoran, yang memperkuat posisinya sebagai salah satu perusahaan healthcare terintegrasi di Indonesia.

"TCBI akan didukung oleh dua kekuatan bisnis yang telah memiliki track record di bidangnya masing-masing sehingga bisa menjadi saluran untuk mengalirkan global innovation kepada pasien di Indonesia," ujar Handojo.

Pertumbuhan Baru Perusahaan dan Perkuat Industri Farmasi Nasional

Selain memperluas akses terhadap obat inovatif, pembentukan TCBI juga menjadi strategi Tempo Scan untuk memperkuat bisnis farmasi perusahaan.

Selama ini, Tempo Scan telah memiliki posisi kuat pada segmen obat bebas (OTC), nutrisi, susu pertumbuhan, produk konsumen, dan kosmetik. Kehadiran TCBI diharapkan melengkapi portofolio perusahaan melalui pengembangan bisnis obat resep berbasis teknologi tinggi.

Handojo menegaskan pembentukan TCBI memiliki relevansi besar bagi sistem kesehatan Indonesia yang menghadapi beban pembiayaan penyakit katastropik yang terus meningkat. Data BPJS Kesehatan tahun 2025 menunjukkan total biaya layanan kesehatan mencapai Rp191,33 triliun, dengan sekitar Rp50,28 triliun dialokasikan untuk penanganan top 8 penyakit katastropik.

Menurutnya, peningkatan kompetisi di industri farmasi menjadi salah satu langkah penting untuk menghadirkan lebih banyak pilihan obat berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.

"Kata kuncinya adalah relevansi daripada kehadiran TCBI untuk meningkatkan tingkat kompetisi di antara perusahaan farmasi yang ada agar bisa menekan biaya melalui harga obat-obatan yang relatif lebih terjangkau bagi pasien," ujar Handojo.

Lebih lanjut, Handojo mengungkapkan bahwa kerja sama Tempo Scan Group dan SBP Group mencerminkan kepercayaan investor global terhadap prospek Indonesia sebagai tujuan investasi jangka panjang.

Fokus Menghadirkan Terapi Inovatif yang Lebih Mudah Diakses

President International at SBP Group Philip Duong mengatakan pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) menjadi salah satu tonggak penting dalam strategi ekspansi internasional perusahaan. Indonesia memiliki arti strategis dan menjadi lokasi pertama di luar China yang dipilih perusahaan untuk kerjasama melalui skema joint venture lokal.

Kemitraan joint venture tersebut didasarkan pada keyakinan perusahaan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, potensi pasar kesehatan, serta komitmen jangka panjang untuk meningkatkan akses pasien terhadap terapi inovatif.

"Kami sangat senang dapat bermitra dengan Tempo Scan Group, salah satu perusahaan kesehatan terkemuka di Indonesia. Dengan menggabungkan portofolio obat inovatif dan kapabilitas pengembangan milik SBP Group dengan keahlian lokal serta jangkauan komersial Tempo Scan Group, kami berharap dapat mempercepat akses pasien Indonesia terhadap terapi inovatif sekaligus berkontribusi pada penguatan ekosistem kesehatan di Indonesia," ujar Philip.

Philip mengatakan, kolaborasi dengan Tempo Scan Group tidak hanya ditujukan untuk memperluas bisnis kedua perusahaan, tetapi juga memperkuat ekosistem kesehatan Indonesia melalui inovasi, penelitian, serta peningkatan akses pasien terhadap terapi modern.

Menurut dia, Tempo Scan memiliki pengalaman panjang dalam memahami pasar lokal dan membangun jaringan distribusi di Indonesia, sementara SBP Group membawa kapabilitas riset dan pengembangan serta pengalaman global di bidang farmasi.

Menko Airlangga Sambut Positif Joint Venture Tempo Scan-SBP Group

Tempo Scan Group dan SBP Group Bentuk Joint Venture, Targetkan Perluas Akses Obat Inovatif di Indonesia

Perbesar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan kepada awak media terkait pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia. (Liputan6.com/Gilar Ramdhani)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyambut positif pembentukan perusahaan patungan (joint venture) antara Tempo Scan Group dan SBP Group melalui pendirian PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat industri biofarmasi nasional sekaligus mempercepat terwujudnya kemandirian Indonesia di sektor obat-obatan.

Menko Airlangga mengatakan, kerja sama ini hadir pada momentum yang tepat di tengah upaya pemerintah mendorong peningkatan kapasitas produksi farmasi dalam negeri, khususnya untuk obat-obatan biologis yang masih bergantung pada impor.

"Saya ucapkan selamat atas keberhasilan PT Tempo Scan menggandeng SBP Group, ini merupakan hal yang luar biasa dan juga menunjukkan kepercayaan dunia usaha terhadap prospek perekonomian di Indonesia. Joint venture Tempo Scan Group dengan SBP Group ini tepat waktu karena Bapak Presiden selalu mengharapkan kita punya kemandirian di bidang obat-obatan," ujar Menko Airlangga.

Airlangga mengatakan kolaborasi antara Tempo Scan Group dan SBP Group juga akan memperkuat pengembangan berbagai produk biofarmasi yang masih sangat dibutuhkan Indonesia. Produk tersebut mencakup terapi untuk kanker, gagal ginjal, diabetes, penyakit pernapasan, anti infeksi, hingga bahan baku farmasi aktif (Active Pharmaceutical Ingredients/API). Selain itu, pengembangan juga diarahkan pada produk biologis seperti monoclonal antibody, biosimilar, produk rekombinan, sitokin, dan insulin biologis.

"Obat-obatan tersebut saya harapkan nantinya dapat diproduksi oleh perusahaan hasil joint venture ini sehingga kita mempunyai resiliensi dan kemandirian di sektor obat-obatan," kata Airlangga.

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar turut menyambut positif berdirinya PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia sebagai hasil joint venture antara Tempo Scan Group dan SBP Group. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk farmasi impor.

Tempo Scan Group dan SBP Group Bentuk Joint Venture, Targetkan Perluas Akses Obat Inovatif di Indonesia

Perbesar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan kepada awak media terkait pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia. (Liputan6.com/Gilar Ramdhani)

Taruna mengatakan, penguatan industri farmasi domestik menjadi kebutuhan mendesak mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Dengan populasi yang terus bertambah, kebutuhan masyarakat terhadap obat-obatan dan layanan kesehatan juga akan semakin meningkat.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data BPOM, sekitar 94 persen bahan baku obat sintetis atau kimia di Indonesia masih bergantung pada impor. Sementara itu, produk biologis, termasuk biosimilar, hampir 100 persen masih didatangkan dari luar negeri. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya investasi dan transfer teknologi untuk meningkatkan kapasitas produksi farmasi di dalam negeri, khususnya bagi obat-obatan inovatif.

Karena itu, Taruna berharap kehadiran PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia dapat menjadi tonggak penguatan ekosistem farmasi nasional sekaligus menjadi model kemitraan strategis antara perusahaan Indonesia dan mitra global.

"Semoga kolaborasi ini menjadi contoh kemitraan strategis yang mampu menghasilkan berbagai inovasi, memperkuat daya saing industri farmasi nasional, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan bangsa Indonesia," tutur Taruna Ikrar.

Setelah pembentukannya, PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia menargetkan peluncuran sejumlah produk specialty dan inovatif secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan, termasuk produk yang telah memperoleh persetujuan maupun produk yang sedang dalam proses registrasi. 

Handojo menegaskan bahwa TCBI dibangun dengan tujuan yang lebih luas daripada sekadar pertumbuhan bisnis.

"Harapan saya adalah menciptakan proses alih teknologi, kapasitas manufaktur lokal, sistem pengendalian mutu yang baik serta landasan bagi studi klinis dan inovasi di masa depan," tutup Handojo.

(*)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Gilar Ramdhani

Gilar RamdhaniTim Redaksi

Share

Copy Link

Batalkan