Jumat, 14 Agustus 2026 - 16:21 WIB
VIVA – Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan kabar positif mengenai kinerja perekonomian Indonesia sepanjang semester I 2026. Ekonomi nasional tercatat tumbuh 5,45 persen secara tahunan atau year on year (yoy), yang menurut Prabowo menjadi pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Baca Juga
Capaian tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Ekonomi kita pada semester pertama tahun ini tumbuh tertinggi dalam 13 tahun terakhir. Inflasi masih tetap terkendali. Permintaan domestik tetap kuat,” kata Prabowo yang dikutip pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Baca Juga
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya ditopang oleh satu sektor. Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi sektor dengan pertumbuhan paling tinggi, yakni mencapai 11,83 persen.
Baca Juga
Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen yang mencatat pertumbuhan tertinggi. Komponen tersebut tumbuh hingga 18,62 persen.
Prabowo mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut dicapai ketika situasi global belum sepenuhnya stabil. Sejumlah persoalan internasional masih memberikan tekanan terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia.
Kenaikan harga energi yang dipengaruhi perang, tingkat suku bunga global yang masih tinggi, tekanan terhadap nilai tukar serta konflik geopolitik menjadi beberapa tantangan yang disebut Prabowo.
Ketegangan geopolitik juga berdampak terhadap perdagangan dunia. Kondisi tersebut membuat pemerintah harus menjaga agar perekonomian nasional tetap memiliki daya tahan terhadap gejolak eksternal.
Selain pertumbuhan ekonomi, Prabowo turut menyoroti perkembangan APBN 2026. Hingga akhir Juli 2026, pendapatan negara disebut mengalami pertumbuhan sebesar 21,3 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, belanja negara juga meningkat 18,2 persen. Menurut Prabowo, peningkatan belanja tersebut diarahkan untuk menjaga kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan, meningkatkan pelayanan publik, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi nasional.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dengan demikian, APBN tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembiayaan pemerintahan, tetapi juga digunakan untuk menjaga stabilitas ekonomi ketika kondisi global masih penuh ketidakpastian.
Meski belanja negara mengalami peningkatan, pemerintah mengklaim kondisi fiskal tetap terkendali. Prabowo menyebut defisit APBN hingga periode tersebut berada pada level 0,91 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Halaman Selanjutnya
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan pemerintah masih dapat menjalankan berbagai program yang berpihak kepada masyarakat tanpa mengabaikan disiplin dalam mengelola keuangan negara.