Kita sering membayangkan keadaan darurat terjadi ketika berada di rumah. Padahal, sebagian waktu sehari justru kita habiskan di tempat kerja.
Ketika terjadi bencana atau keadaan darurat, tas siaga menjadi salah satu perlengkapan yang dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan dasar sebelum situasi kembali normal. Akan tetapi, kebutuhan seorang saja tidak selalu sama dengan situasi darurat di rumah dan di tempat kerja.
Bagi pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor, pertanyaannya bukan hanya apa isi tas siaga, tetapi apa yang sebenarnya disiapkan ketika keadaan darurat terjadi saat bekerja?
Gempa bumi, banjir, kebakaran, hingga situasi yang berkaitan dengan krisis kesehatan dapat terjadi ketika seseorang sedang berada di tempat kerja. Karena itu, tas siaga bagi pekerja perlu disesuaikan dengan kebutuhan personal sekaligus kondisi lingkungan kerja. Berikut penjelasan dilansir dari BNPB & Life Secure (10/9).
Apa yang lebih penting dari isi tas saat di kantor?
Memiliki tas siaga tidak otomatis membuat seseorang siap menghadapi keadaan darurat. Pekerja juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika situasi darurat terjadi. Misalnya, pekerja perlu mengetahui jalur evakuasi, lokasi titik kumpul, siapa yang harus dihubungi, dan dari mana informasi resmi mengenai kondisi darurat akan diberikan.
Hal ini menjadi penting karena situasi krisis dapat membuat informasi beredar dengan cepat, tetapi tidak semuanya dapat dipastikan kebenarannya. Dengan kata lain, kesiapsiagaan pekerja bukan hanya soal memiliki perlengkapan, tetapi juga memahami prosedur dan informasi yang harus diikuti.
Apa yang perlu dipersiapkan?
Tidak semua bencana alam membutuhkan kesiapan yang sama dengan krisis kesehatan. Lalu, bagaimana caranya supaya apa yang kita persiapkan dan butuhkan terpenuhi?
Sebagai pekerja, tentu isi tas yang kita bawa sering kali berat dan terasa sesak. Mulai dari laptop hingga pouch kabel, semuanya menumpuk jadi satu. Kuncinya bukan membawa lebih banyak barang, melainkan membawa barang yang tepat sesuai dengan modul.
1. Manfaatkan barang bawaan harian. Powerbank, kabel data, botol minum, snack, dan uang tunai. Ini bisa jadi survival kit tingkat dasar. Kita hanya perlu memaksimalkan fungsinya.
2. Pouch modul bencana alam. Peluit darurat, senter mini, jas hujan plastik, dan pisau lipat multi-tool. Saat bencana fisik terjadi, fokus utama kita adalah kecepatan bergerak dan memberi sinyal keberadaan. Semua item di atas ini ringan dan bisa masuk ke dalam satu pouch.
3. Pouch modul krisis kesehatan. Berbeda dengan bencana alam yang butuh fisik, krisis kesehatan butuh pertahanan diri dari luar. Antara lain masker respirator atau bisa disebut N95, KN95, hand sanitizer, tisu basah antiseptik, obat-obat pribadi (stok 3 hari), vitamin, dan termometer strip.
Trik pintar agar tas kerjamu tidak berantakan: gabungkan kedua modul di atas ke dalam satu pouch ringan yang berbahan nilon atau kedap air.
Sehingga setiap kali kamu ganti tas kerja dari backpack ke totebag, kamu cukup memindahkan satu pouch ini saja. Praktis, tidak membebani punggung, dan yang penting, kita bisa selalu siap menghadapi situasi apa pun di mana saja.
Penutup
Meski begitu, perusahaan juga memiliki peran dalam menyiapkan kerja yang aman, prosedur keadaan darurat, jalur evakuasi, serta mekanisme komunikasi ketika terjadi krisis.
Pada akhirnya, tas siaga hanyalah salah satu bagian dari kesiapan. Ketika keadaan darurat terjadi, yang dibutuhkan bukan hanya barang di dalam tas, tetapi pengetahuan dan informasi.