Tanjab Barat, Jambi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat), Jambi, memperkuat ketangguhan sektor pertanian dan perkebunan dalam menghadapi perubahan iklim melalui sekolah lapang iklim (SLI) yang digagas oleh BMKG.
"Sektor pertanian dan perkebunan harus terus kita kembangkan agar semakin produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat," kata Wakil Bupati Tanjab Barat Katamso di Kualatungkal, Jambi, Kamis.
Menurut dia, sekolah lapang yang di gagas oleh BMKG melalui Stasiun Klimatologi Jambi itu sangat strategis, mengingat sektor pertanian di wilayahnya menyumbang sekitar 34 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB), 66 persen di antaranya ditopang oleh subsektor perkebunan.
Untuk itu, melalui sekolah lapang itu Katamso berharap para petani memanfaatkan informasi cuaca dan iklim dari BMKG secara tepat guna, tepat sasaran, dan tepat waktu untuk menentukan pola tanam maupun pengelolaan lahan, mengingat keterlibatan informasi iklim sangat penting dalam menekan risiko kekeringan dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Apalagi saat ini, dari 7.600 hektare lahan sawah di Tanjung Jabung Barat, sekitar 92 hektare sempat terdampak kekeringan yang berpotensi mempengaruhi target produksi pangan daerah.
"Informasi dari BMKG harus menjadi dasar dalam mengambil langkah, termasuk menentukan waktu pelaksanaan kegiatan pertanian dan perbaikan saluran. Masyarakat tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola musim terdahulu yang kini makin sulit diprediksi," katanya menambahkan.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Jambi Darmadi menjelaskan SLI kali ini diikuti 50 peserta dari kalangan pekebun, petani, serta penyuluh lapangan.
Menurut dia, kegiatan seperti tersebut bertujuan meningkatkan literasi iklim dan kapasitas teknis peserta dalam mengelola lahan secara produktif, berkelanjutan, serta menghindari praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Di kesempatan yang sama, Koordinator Bidang Iklim Terapan Direktorat Layanan Iklim Terapan, BMKG Siswanto secara daring menyampaikan bahwa fenomena El Nino diprediksi masih berpotensi berlangsung hingga awal 2027.
Namun, untuk sejumlah wilayah di Jambi, khususnya Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, diprakirakan mulai memasuki awal musim hujan pada 3 Oktober 2026.
"Informasi iklim perlu dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan pertanian dan perkebunan, pemantauan risiko, serta pencegahan karhutla. Sekolah lapang iklim diharapkan menghasilkan langkah nyata di lapangan," kata Siswanto.
Pewarta: Agus Suprayitno
Editor : Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.