Jakarta -
Lomba makan kerupuk menjadi tradisi populer saat 17 Agustus. Di balik keseruannya, ada sejarah, makna, dan cerita tentang perjuangan rakyat Indonesia.
Setiap Agustus, suasana perayaan kemerdekaan terasa semakin meriah di berbagai daerah. Warga biasanya menggelar beragam kegiatan yang menghibur dan melibatkan banyak kalangan.
Tradisi tersebut tak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menghadirkan kesempatan bagi warga untuk berkumpul. Anak-anak hingga dewasa, semua bisa ikut merasakan kemeriahan perayaan HUT RI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu kegiatan yang paling mudah dikenali adalah lomba dengan makanan sederhana, yaitu kerupuk. Di balik keseruannya, ternyata tradisi ini memiliki kaitan dengan perjalanan masyarakat Indonesia melewati masa sulit.
Baca juga: Pramono Anung Join the Trend! Ini 5 Kuliner Favoritnya di Jakarta
Berikut ini 5 fakta lomba makan kerupuk yang ikonik:
Lomba makan kerupuk baru muncul sekitar tahun 1950an. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng
1. Muncul Tahun 1950an
Lomba makan kerupuk mulai dikenal dalam rangkaian perayaan HUT RI pada 1950-an. Saat itu, berbagai perlombaan mulai bermunculan setelah kondisi politik dan keamanan lebih kondusif.
Dilansir dari detikedu, (16/8/2021) menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman, masyarakat sebelumnya masih sibuk mempertahankan kemerdekaan. Kondisi tersebut membuat perayaan kemerdekaan belum bisa digelar secara meriah.
Setelah masa peperangan berakhir, perlombaan hadir sebagai hiburan bagi masyarakat. Lomba makan kerupuk kemudian menjadi salah satu kegiatan yang populer dalam perayaan kemerdekaan.
2. Makanan Rakyat Kecil
Sebelum menjadi bahan perlombaan, kerupuk telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Pada 1930-an hingga 1940-an, kerupuk disebut menjadi makanan pelengkap yang banyak dikonsumsi.
Sebelum menjadi bahan perlombaan, kerupuk telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Pada 1930-an hingga 1940-an, kerupuk disebut menjadi makanan pelengkap yang banyak dikonsumsi.
Kerupuk kemudian menjadi salah satu makanan yang dapat membantu masyarakat bertahan. Harganya yang terjangkau membuat makanan ini dekat dengan kehidupan rakyat kecil pada masa tersebut.
3. Identik dengan Masa Perjuangan
Lomba makan kerupuk tidak hanya dibuat untuk menghadirkan keseruan saat perayaan kemerdekaan. Kegiatan tersebut juga dikaitkan dengan upaya mengingat kondisi sulit yang dialami masyarakat saat masa perang.
Fadly Rahman menyebut lomba ini menjadi salah satu cara untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia. Kerupuk dipilih karena identik dengan makanan sederhana yang dikonsumsi rakyat kecil pada masa perang.
Sehingga, kerupuk memiliki makna lebih dari sekadar makanan dalam perlombaan. Makanan sederhana tersebut mengingatkan masyarakat pada daya bertahan hidup di tengah keterbatasan.
Aturannya sederhana, tetapi larangan makan kerupuk dengan bantuan tangan yang membuatnya penuh tantangan. Foto: instagram @leodiegosabrina
4. Aturan Sederhana yang Penuh Tantangan
Lomba makan kerupuk biasanya dilakukan dengan menggantung kerupuk menggunakan tali. Peserta kemudian harus menghabiskan kerupuk tersebut tanpa menyentuhnya dengan tangan.
Peserta yang paling cepat menghabiskan kerupuk dinyatakan sebagai pemenang. Dalam perkembangannya, muncul pula variasi seperti lomba makan kerupuk menggunakan sistem katrol.
Tantangan tanpa bantuan tangan membuat peserta harus mengandalkan gerakan kepala dan mulut. Kesederhanaan aturan inilah yang membuat lomba mudah digelar di berbagai lingkungan masyarakat.
5. Tradisi yang Tak Pernah Lekang
Lomba makan kerupuk masih menjadi salah satu kegiatan populer dalam perayaan HUT RI. Tradisi tersebut digelar mulai dari lingkungan permukiman hingga berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas.
Seiring waktu, lomba ini juga berkembang dengan berbagai variasi aturan. Meski bentuk permainannya dapat berubah, kerupuk tetap menjadi bagian utama dari perlombaan tersebut.
Keseruan lomba membuat tradisi ini tetap dekat dengan berbagai generasi. Di balik tawa peserta, tersimpan pengingat tentang kesederhanaan dan perjuangan masyarakat Indonesia pada masa lalu.
Baca juga: Kok Bisa Madu Berusia 3.000 Tahun dari Makam di Mesir Tetap Awet?
Halaman 2 dari 2
(dfl/adr)