Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jabodetabek Hari Ini 22 Agustus 2026 Menurut BMKG: Cerah Berawan
Kenapa Sungai Barito Surut?
Salah satu penyebab utama Sungai Barito surut adalah rendahnya curah hujan di wilayah Kalimantan Tengah. Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya, Chandra, menjelaskan bahwa kondisi hujan yang rendah membuat pasokan air ke sungai berkurang.
Menurut penjelasan BMKG, durasi musim kemarau menjadi salah satu indikator penting dalam melihat potensi penurunan debit dan muka air sungai di Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut mulai terlihat sejak Juli 2026 dan semakin jelas ketika memasuki periode kemarau yang lebih kering.
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah mengalami kondisi curah hujan rendah pada periode berikutnya. Kondisi yang lebih kering dari biasanya ini berpotensi membuat pasokan air ke sungai tetap terbatas.
Dengan kata lain, semakin sedikit hujan yang turun dalam waktu yang panjang, semakin kecil pula pasokan air yang masuk ke sistem sungai.
BMKG Catat Curah Hujan Kalteng Berada pada Kategori Rendah
Data resmi BMKG Kalimantan Tengah menunjukkan kondisi curah hujan yang rendah di wilayah tersebut. Dalam analisis curah hujan Juli 2026, BMKG mencatat sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah didominasi curah hujan kategori rendah, yakni 0 hingga 100 milimeter.
Baca Juga: Kalender Jawa 22 Agustus 2026: Watak Weton Sabtu Legi yang Dikenal Cerdas
Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai terbatasnya pasokan air selama periode kemarau. Ketika hujan yang turun lebih sedikit, jumlah air yang mengalir menuju sungai dan tersimpan di wilayah Daerah Aliran Sungai atau DAS juga dapat berkurang.
Bukan hanya kondisi yang sudah terjadi, BMKG juga memprakirakan curah hujan Kalteng masih berada pada kategori rendah. Berdasarkan pembaruan 19 Agustus 2026, seluruh wilayah Kalimantan Tengah masuk kategori curah hujan rendah untuk dasarian III Agustus, dasarian I September, hingga dasarian II September 2026.
Data tersebut memperkuat penjelasan bahwa rendahnya curah hujan menjadi salah satu faktor penting dalam penyusutan debit Sungai Barito. Meski demikian, besarnya penurunan muka air sungai tetap dipengaruhi oleh kondisi hidrologis masing-masing DAS.
Bagaimana Kemarau Bisa Membuat Debit Sungai Turun?
Debit sungai adalah volume air yang mengalir melalui suatu penampang sungai dalam periode tertentu. Besarnya debit dapat berubah mengikuti berbagai faktor, salah satunya adalah jumlah air yang masuk ke sungai dari hujan dan aliran permukaan.
Saat musim hujan, air hujan yang jatuh di wilayah daratan dapat mengalir menuju sungai melalui aliran permukaan maupun saluran air. Sebagian air juga meresap ke dalam tanah dan membantu menjaga ketersediaan air.
Sebaliknya, ketika musim kemarau berlangsung panjang dan curah hujan rendah, pasokan air ke sungai ikut berkurang. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, muka air sungai dapat turun secara signifikan.
Siklus tersebut menjelaskan mengapa penyusutan debit sungai biasanya semakin terlihat ketika kemarau memasuki periode puncaknya.
Mengapa Muncul Hamparan Pasir di Tengah Sungai?
Salah satu pemandangan yang mencolok dari kondisi Sungai Barito saat ini adalah munculnya hamparan pasir atau gosong di sejumlah bagian sungai.
Ketika debit air turun drastis, bagian dasar sungai yang sebelumnya tertutup air menjadi terlihat. Material seperti pasir dan sedimen yang berada di dasar sungai kemudian tampak seperti daratan di tengah aliran.
Kondisi tersebut terlihat di sekitar Jembatan Kalahien, Kabupaten Barito Selatan. Foto dan video yang beredar menunjukkan bagian sungai yang menyusut hingga menyerupai hamparan pasir.
Fenomena ini bukan berarti sungai berubah menjadi gurun pasir secara permanen. Penampakan tersebut merupakan bagian dasar sungai yang muncul akibat berkurangnya volume air.
Baca Juga: Karhutla Kalimantan Meluas, Puan Minta Pemerintah Perkuat Pemadaman
Apa Hubungan DAS dengan Kondisi Sungai Barito?
Untuk memahami fenomena Sungai Barito, masyarakat juga perlu mengenal istilah Daerah Aliran Sungai atau DAS.
DAS merupakan wilayah daratan yang menampung air hujan dan mengalirkannya menuju satu sistem sungai beserta anak-anak sungainya. Kondisi yang terjadi di wilayah DAS dapat memengaruhi jumlah air yang akhirnya masuk ke sungai.
Karena itu, perubahan debit Sungai Barito tidak hanya dipengaruhi kondisi air di satu titik sungai. Kondisi wilayah hulu, curah hujan, tutupan lahan, kemampuan tanah menyerap air, serta berbagai faktor hidrologis lainnya turut berperan.
BMKG juga menekankan bahwa besarnya dan lamanya penurunan debit sungai dapat berbeda-beda karena setiap DAS memiliki respons hidrologis yang tidak sama.
Apakah Kerusakan Lingkungan Memengaruhi Kekeringan?
Selain faktor cuaca, kondisi ekologis juga menjadi perhatian dalam melihat fenomena kekeringan di DAS Barito.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi Kalimantan Tengah, Janang Firman, menilai perubahan bentang alam dan deforestasi dapat memperbesar kerentanan kawasan terhadap kondisi iklim yang semakin ekstrem.
Menurutnya, perubahan bentang alam dalam skala besar dapat memengaruhi kondisi ekologis DAS. Ia juga mengaitkan kondisi kekeringan dengan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan serta potensi krisis air bersih.
Namun, faktor ekologis tersebut perlu dibedakan dari penyebab meteorologis langsung. Dalam penjelasan BMKG, rendahnya curah hujan dan kemarau yang lebih kering merupakan faktor penting yang berkaitan langsung dengan berkurangnya debit sungai.
Dengan demikian, fenomena Sungai Barito dapat dipahami sebagai persoalan yang melibatkan faktor cuaca, hidrologi, serta kondisi lingkungan.
Dampak Sungai Barito Surut bagi Masyarakat
Penurunan debit Sungai Barito tidak hanya mengubah pemandangan di sekitar aliran sungai. Kondisi tersebut juga berdampak terhadap aktivitas masyarakat yang bergantung pada transportasi air.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menyebut ketinggian air di Muara Teweh turun drastis hingga sekitar 0,6 meter, sementara kondisi normalnya berada pada kisaran 5 hingga 11,5 meter.
Air sungai yang semakin dangkal membuat kapal berukuran besar, tongkang pengangkut batu bara, minyak, dan kayu mengalami kesulitan untuk melintas. Dalam kondisi tersebut, aktivitas transportasi sungai dapat terganggu dan hanya perahu berukuran kecil seperti jukung yang masih dapat beroperasi secara terbatas.
Gangguan transportasi air kemudian berpotensi berpengaruh terhadap distribusi barang dan kegiatan ekonomi di wilayah yang bergantung pada jalur sungai.
Baca Juga: Kalimantan Kembali Dilanda Karhutla, DPR: Jangan Tunggu Api Membesar
Apa Dampak Jangka Panjangnya?
Jika kondisi kering berlangsung dalam waktu lama, dampaknya dapat meluas ke berbagai sektor. Selain transportasi, penurunan debit sungai dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air bagi masyarakat dan lingkungan.
Kondisi kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Ketika vegetasi dan permukaan tanah kehilangan banyak kelembapan, kawasan menjadi lebih rentan terhadap api.
Dari sisi ekonomi, terganggunya transportasi sungai dapat memengaruhi distribusi komoditas dan aktivitas sektor yang menggunakan sungai sebagai jalur pengangkutan. Guswanto mengingatkan bahwa kondisi yang berlanjut dapat memberikan konsekuensi terhadap sektor pertambangan dan perkebunan serta perekonomian regional.
Apakah Sungai Barito Akan Kembali Normal?
Belum dapat dipastikan kapan debit Sungai Barito akan kembali ke kondisi normal karena hal tersebut sangat bergantung pada perkembangan musim dan curah hujan.
Jika curah hujan kembali meningkat secara konsisten, pasokan air ke DAS dapat bertambah dan muka air sungai berpeluang naik. Sebaliknya, apabila kondisi kemarau dan hujan rendah terus berlangsung, penyusutan debit dapat bertahan lebih lama.
Karena itu, perkembangan Sungai Barito perlu dipantau berdasarkan data hidrologi dan meteorologi, bukan hanya dari perubahan visual yang terlihat di lapangan.
Untuk memperoleh data yang lebih rinci mengenai fluktuasi debit sungai, masyarakat dan pihak terkait dapat berkoordinasi dengan Dinas PUPR bidang sumber daya air atau Balai Wilayah Sungai.
Baca Juga: Karhutla Kalimantan Kian Parah, Komisi VIII DPR Dorong Revisi UU Kebencanaan dan Penguatan BNPB
FAQ
Mengapa Sungai Barito surut?
Sungai Barito surut terutama dipengaruhi rendahnya curah hujan dan berlangsungnya musim kemarau. Data BMKG menunjukkan curah hujan Kalimantan Tengah pada Juli 2026 didominasi kategori rendah, sementara prediksi berikutnya juga menunjukkan kategori rendah hingga September.
Mengapa Sungai Barito terlihat seperti gurun pasir?
Debit air yang turun drastis membuat bagian dasar sungai yang sebelumnya tertutup air menjadi terlihat. Material pasir dan sedimen kemudian tampak seperti hamparan daratan di tengah sungai.
Apa hubungan curah hujan dengan debit sungai?
Curah hujan menjadi salah satu sumber utama pasokan air bagi sistem sungai. Ketika hujan berkurang dalam waktu lama, aliran air yang masuk ke sungai ikut menurun sehingga debit dan muka air dapat menyusut.
Apa dampak Sungai Barito surut bagi masyarakat?
Salah satu dampak langsungnya adalah terganggunya transportasi sungai. Kapal besar dan tongkang dapat mengalami kesulitan melintasi bagian sungai yang dangkal, sehingga distribusi barang dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada jalur air ikut terdampak.
Sumber: BMKG Kalimantan Tengah, CNN