Flores, VIVA – Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN) Sudirman Said mengajak aktivis mahasiswa membangun kepemimpinan intrinsik, yaitu kepemimpinan yang sumber kekuatannya bukan otoritas formal, melainkan nilai dan karakter yang dibangun sendiri oleh seseorang dari waktu ke waktu.
Baca Juga
Hal tersebut diungkap Sudirman Said dalam Kongres Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ke-34 di di Unika Indonesia St Paulus Ruteng, Flores.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Kita patut syukuri semua kemajuan yang telah kita capai sebagai bangsa. Tetapi harus kita sadari bahwa keadaan kita saat ini tidak sedang baik-baik saja,” kata Sudirman, Rabu, 22 Juli 2026.
Baca Juga
Sudirman menjelaskan angka yang bertolak belakang dengan proyeksi Indonesia Emas 2045. Dalam sepuluh tahun terakhir, seiring pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen per tahun, peringkat Indeks Persepsi Korupsi justru anjlok dari 88 ke 109.
"Satu persen orang terkaya menguasai lebih dari separuh ekonomi nasional, kelompok miskin bertambah lebih dari 10 juta orang, dan sekitar 19 juta lulusan SMA berstatus tidak bekerja, tidak sekolah, dan tidak mengikuti pelatihan apa pun," kata dia.
Baca Juga
Namun, Sudirman tetap meyakini ada alasan untuk optimis, digali dari sejarah bangsa Indonesia. Setiap lompatan besar Indonesia, dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, hingga Reformasi, selalu digerakkan oleh kaum muda dan kaum terpelajar.
Menurutnya, modal generasi sekarang jauh lebih besar dibanding 1908, saat hampir seluruh penduduk buta huruf dan cuma ada 178 mahasiswa pribumi di seluruh negeri. Hari ini Indonesia punya sekitar 25 juta mahasiswa dan hampir 3.000 perguruan tinggi.
"Secara keseluruhan kita punya kemauan untuk mendobrak, melawan status quo, dan melakukan perbaikan," katanya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Sayangnya, kata Sudirman, capaian demokrasi hasil Reformasi tidak dirawat baik dalam satu dekade terakhir. KPK disebut dilemahkan, penegakan hukum melempem, parlemen kehilangan fungsi kontrolnya, dan partai politik berubah jadi arena transaksi elite.
Ia menyebut kondisi ini sebagai lubang hitam yang harus segera diangkat keluar, dan dari situ menawarkan tiga model kepemimpinan yang mesti tumbuh bersamaan: institusional, yang membenahi kelembagaan rusak; kolektif, karena tidak ada satu tokoh pun yang sanggup membereskan persoalan sebesar ini sendirian; dan yang paling ia tekankan malam itu, kepemimpinan intrinsik.
Halaman Selanjutnya
"Yang disebut kepemimpinan intrinsik adalah kepemimpinan yang dasarnya bukan jabatan, bukan otoritas, tapi nilai-nilai, integritas, kompetensi, dan kemampuan menggerakkan. Diikuti karena pengaruh, karena wibawa, bukan karena kekuasaan. Diikuti karena rasa hormat, bukan karena rasa takut atau kepatuhan. Basisnya adalah kekuatan personal, bukan kekuatan jabatan, dan personal power melekat pada diri kita, tidak peduli apakah kita naik, turun, bergeser, berhenti bekerja, atau pensiun," jelas Sudirman.