Melbourne (ANTARA) - Mencapai emisi nol bersih lebih cepat dapat membatasi perubahan jangka panjang pada fenomena El Nino dan kawasan Pasifik tropis, meskipun panas yang sudah tersimpan jauh di dalam laut dapat membuat perubahan iklim di kawasan Pasifik tropis tetap berlangsung selama berabad-abad.
Para peneliti mengkaji apa yang terjadi pada kawasan Pasifik tropis baik selama pemanasan global maupun setelah emisi karbon dioksida dihentikan, ungkap sebuah pernyataan yang dirilis pada Rabu (14/10) oleh Universitas Melbourne, Australia.
Studi tersebut, yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment, menemukan bahwa perubahan suhu, pola angin, dan curah hujan di Samudra Pasifik dapat bertahan selama beberapa abad setelah emisi dihentikan.
"Atmosfer dan permukaan laut dapat menyesuaikan diri dengan relatif cepat, sementara laut dalam menyerap dan melepaskan panas selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Hal ini membuat laut menyimpan jejak emisi gas rumah kaca pada masa lalu dalam jangka waktu yang panjang," kata penulis utama studi tersebut, Aditya Sengupta, dari Universitas Melbourne.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa beberapa perubahan iklim di Pasifik tropis mungkin secara efektif tidak dapat dipulihkan selama beberapa abad, yang memperkuat kebutuhan untuk segera mencapai emisi nol bersih guna membatasi akumulasi panas dalam sistem iklim dan dampak jangka panjangnya.
Kawasan Pasifik tropis memengaruhi cuaca global melalui fenomena El Nino-Osilasi Selatan (El Nino-Southern Oscillation/ENSO), yang bergantian antara fase El Nino, La Nina, dan netral.
Fenomena ini memengaruhi curah hujan, kekeringan, banjir, gelombang panas, dan kondisi yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Australia dan di seluruh dunia, papar studi tersebut.
Hasil pemodelan tersebut menunjukkan bahwa pemanasan telah menggeser kawasan Pasifik tropis menuju kondisi rata-rata yang lebih menyerupai El Nino, memperkecil perbedaan suhu antara wilayah barat Pasifik tropis yang lebih hangat dan wilayah timurnya yang lebih dingin.
Tim peneliti menganalisis sembilan model sistem Bumi sebelum menggunakan Model Sistem Bumi (Earth System Model) ACCESS milik Australia untuk mengkaji perubahan selama 1.000 tahun setelah emisi dihentikan pada berbagai titik waktu sepanjang abad ke-21.
Pewarta: Xinhua
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.