Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
06 August 2026 14:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran-Amerika Serikat (AS) menambah tekanan baru bagi industri pelayaran global.
Gangguan di Selat Hormuz, yang menjadi jalur bagi sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia, sempat mengerek harga bahan bakar, tarif angkutan, serta premi asuransi kapal.
Meski pembicaraan pembukaan kembali jalur pelayaran mulai menunjukkan kemajuan, ketidakpastian belum sepenuhnya mereda.
Bagi emiten kapal, situasi tersebut menjadi pedang bermata dua.
Kenaikan tarif angkutan dan sewa kapal dapat mendongkrak pendapatan. Namun, lonjakan harga bahan bakar, asuransi, dan biaya operasional berpotensi menekan margin, terutama bagi perusahaan yang tidak dapat meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan.
Jumlah kapal tanker lewati Selat Hormuz Foto: CNBC
Di tengah kondisi tersebut emiten-emiten perkapalan Indonesia secara terpaksa harus menerima kepahitan dan dampak dari guncangan pasar global tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan periode Juni 2026 (H1 2026), terdapat 22 emiten pemilik atau operator kapal yang telah melaporkan kinerjanya hingga Rabu (5/8/2026). Sebanyak sembilan perusahaan mencatatkan kenaikan laba, sembilan mengalami penurunan laba, dan empat emiten berbalik dari laba menjadi rugi.
Perbandingan menggunakan laba bersih semester I-2026 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Angka dalam dolar AS dikonversi menggunakan asumsi kurs Rp18.000/US$.
Emiten Kapal dengan Laba Meningkat
PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB) membukukan pertumbuhan laba tertinggi. Laba bersih perseroan melesat 68,9% secara tahunan atau year-on-year (YoY), dari Rp5,17 miliar menjadi Rp8,73 miliar.
Posisi berikutnya ditempati PT Temas Tbk (TMAS). Laba perusahaan pelayaran peti kemas tersebut tumbuh 54,3% menjadi Rp441,57 miliar.
Selanjutnya terdapat ALII, WINS, dan TCPI yang masing-masing mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 27,5%, 24,4%, dan 23,8%.
Meskipun sama-sama bertumbuh, kenaikan laba MBSS relatif tipis, yakni hanya 0,4%. Pertumbuhan paling menonjol terdapat pada PJHB dan TMAS karena keduanya membukukan kenaikan laba di atas 50%.
Secara nominal, TMAS menjadi pencetak laba terbesar dalam kelompok ini dengan Rp441,57 miliar, disusul ALII sebesar Rp265,32 miliar dan MBSS sebesar Rp203,79 miliar.
Sebanyak sembilan emiten masih membukukan keuntungan pada semester I-2026, tetapi labanya lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan paling dalam dialami PT Pelayaran Kurnia Lautan Semesta Tbk (KLAS). Laba bersihnya anjlok 72,5%, dari Rp24,83 miliar menjadi Rp6,84 miliar.
PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) menyusul dengan penurunan laba sebesar 66,7%. Setelah dikonversi menggunakan kurs Rp18.000/US$, laba TPMA turun dari setara Rp171,67 miliar menjadi Rp57,13 miliar.
SHIP mencatatkan penurunan paling ringan dalam kelompok ini, yakni 17,9%. Laba perusahaan turun dari setara Rp222,20 miliar menjadi Rp182,38 miliar.
Sementara itu, lima emiten mengalami penurunan laba lebih dari 50%, yakni HUMI, HATM, ELPI, TPMA, dan KLAS.
Emiten Kapal Berbalik dari Laba Menjadi Rugi
Tekanan lebih berat dialami BESS, NELY, GTSI, dan LEAD. Keempat emiten tersebut masih mencetak laba pada semester I-2025, tetapi berbalik membukukan kerugian pada semester I-2026.
LEAD mencatatkan kerugian terbesar setelah seluruh nilai diseragamkan ke dalam rupiah. Kerugian perusahaan mencapai setara Rp52,12 miliar, berbalik dari laba Rp3,04 miliar.
GTSI membukukan rugi setara Rp34,24 miliar, sedangkan NELY dan BESS masing-masing mencatatkan rugi Rp18,60 miliar dan Rp5,55 miliar.
Persentase perubahan laba keempat perusahaan tersebut tidak ditampilkan karena perhitungan pertumbuhan di bawah minus 100% kurang representatif. Kondisinya lebih tepat disebut sebagai pembalikan kinerja dari laba menjadi rugi.
Sinyal Kuning bagi Industri Perkapalan
Secara umum, kinerja emiten kapal pada semester I-2026 menunjukkan kecenderungan melemah. Dari 22 perusahaan, hanya sembilan emiten atau sekitar 41% yang berhasil meningkatkan laba.
Sebaliknya, sebanyak 13 emiten atau 59% melemah, terdiri dari sembilan perusahaan dengan laba menurun dan empat emiten yang berbalik merugi.
Belum ada pula perusahaan dalam daftar tersebut yang berhasil melakukan turnaround dari rugi menjadi laba. Komposisi sembilan emiten membaik berbanding 13 emiten melemah menjadi sinyal kurang positif bagi sektor perkapalan.
Namun, kondisi ini belum berarti seluruh industri kapal berada dalam situasi buruk. Dampaknya berbeda pada setiap emiten, tergantung jenis kapal, tingkat utilisasi armada, struktur kontrak, beban utang, dan kemampuan meneruskan kenaikan biaya bahan bakar kepada pelanggan.
Meski demikian, pelemahan mayoritas emiten patut menjadi perhatian. Di tengah perang Iran-AS dan biaya pelayaran yang masih bergejolak, kemampuan menjaga margin, arus kas, dan utilisasi kapal akan menjadi penentu kinerja sektor ini pada paruh kedua 2026.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls)