REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON— Menjelang November mendatang, Abdul Rahman Al-Sayed, yang lebih dikenal dengan nama “Abdul”, berpotensi menjadi Muslim pertama dalam sejarah yang masuk ke Senat Amerika Serikat.
Namun, signifikansi Abdul bukan semata-mata soal menjadi Muslim pertama yang menduduki posisi tersebut. Dua dekade lalu, Keith Ellison telah menjadi Muslim Amerika pertama yang terpilih ke Kongres.
Aljazeera, dikutip Rabu (19/8/2026) melaporkan, pada 2016, Sadiq Khan menjadi Muslim pertama yang terpilih sebagai Wali Kota London.
Beberapa bulan lalu, Zohran Mamdani menyusul di New York. Dengan demikian, Muslim telah memimpin dua kota terpenting di dunia Barat.
Yang jauh lebih penting adalah fenomena politik yang mereka wakili.
Abdul, Mamdani, Rashida Tlaib, Ilhan Omar, serta puluhan aktivis Muslim yang mulai menanjak dalam politik Amerika tidak lagi tampil sebagai minoritas yang ketakutan dan hanya mencari perlindungan.
Mereka muncul sebagai bagian dari realitas politik baru: Muslim yang mampu menyatukan komunitasnya melalui agenda politik progresif yang menolak dominasi uang dalam politik, membela demokrasi, mengkritik kebijakan imperialis dan dukungan terhadap pendudukan Israel, serta menyoroti kesenjangan sosial dan mahalnya biaya hidup.
Dari minoritas yang mencari perlindungan menjadi kekuatan politik
Ketika Abdul Rahman Al-Sayed mencalonkan diri sebagai Gubernur Michigan pada 2018, pertanyaan yang terus mengikutinya sepanjang kampanye sederhana tetapi sarat makna: bisakah seorang Muslim Amerika dengan nama Arab yang jelas, sekaligus membawa agenda politik di sebelah kiri arus utama Partai Demokrat, memenangkan pemilihan di negara bagian seperti Michigan?
Michigan merupakan negara bagian swing state, sehingga menjadi wilayah yang tidak mudah dimenangkan hanya dengan mengandalkan label Partai Demokrat.
Abdul akhirnya kalah dari Gretchen Whitmer, yang kini menjadi gubernur Michigan. Kekalahan tersebut saat itu mudah ditafsirkan sebagai pembenaran atas pandangan tradisional politik Amerika: kandidat Muslim mungkin bisa terpilih menjadi anggota Kongres dari distrik yang secara konsisten dikuasai Demokrat, tetapi untuk memenangkan jabatan eksekutif penting di negara bagian swing state diperlukan kandidat yang dianggap lebih moderat dan tidak terlalu kontroversial.
Namun, pandangan itu kini mulai berubah.