Elephants

Sempat Runtuh dan Picu Tsunami, Gunung Anak Krakatau Kini Tumbuh Lagi

September 23, 2026

Rabu, 23 September 2026 - 18:58 WIB

VIVA – Gunung Anak Krakatau ternyata belum berhenti berubah setelah mengalami keruntuhan besar pada 2018. Gunung api yang sebagian tubuhnya ambruk ke laut itu kini perlahan membentuk kembali tubuhnya melalui rangkaian aktivitas erupsi.

Baca Juga

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dini Nurfiani mengungkapkan, proses tersebut menjadi bagian dari siklus alami Anak Krakatau sebagai gunung api yang terus mengalami perubahan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penelitian yang melibatkan BRIN, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), University of Birmingham, ITB, Penn State University, British Geological Survey, serta University of Oxford masih berlangsung untuk memahami perubahan tersebut.

Baca Juga

Menurut Dini, sejarah Anak Krakatau memperlihatkan adanya pola pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, hingga pembangunan kembali. Kondisi tersebut kembali terlihat setelah tubuh gunung mengalami kolaps pada 2018.

"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru," kata Dini dalam keterangan di Jakarta, Rabu 23 September 2026. 

Baca Juga

Tubuh Gunung Anak Krakatau Ambruk ke Laut

Keruntuhan pada 2018 menjadi salah satu perubahan terbesar dalam sejarah modern Anak Krakatau. Sektor barat daya gunung runtuh ke laut dengan volume material yang diperkirakan mencapai sekitar 0,116 kilometer kubik.

Akibatnya, sebagian besar tubuh Anak Krakatau yang sebelumnya berada di atas permukaan laut hilang. Ketinggian puncaknya pun berubah drastis, dari sekitar 330 meter menjadi hanya sekitar 120 meter.

Peristiwa tersebut juga memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Namun, dampak keruntuhan tidak berhenti pada perubahan bentuk gunung. Menurut Dini, kondisi tersebut turut memengaruhi sistem erupsi Anak Krakatau.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba membuat tekanan pada saluran magma berkurang. Di saat bersamaan, air laut dapat masuk ke bagian kawah yang terbuka.

"Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya," ujar Dini.

Halaman Selanjutnya

Mulai Membentuk Tubuh Baru