REPUBLIKA.CO.ID, PONOROGO — Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi momentum istimewa bagi Pendiri Pondok Pesantren Darul Aman Yayasan Buq'atun Mubarakah, Kiai Haji Abdul Djalil Thahir. Bersama Sekretaris Yayasan Buq'atun Mubarakah, Ahmad Sahal, ia kembali ke lingkungan pesantren yang pernah menjadi bagian penting perjalanan pendidikan dan pembentukan dirinya.
Bagi Kiai Abdul Djalil, kehadiran dalam peringatan satu abad Gontor bukan sekadar menghadiri sebuah seremoni. Momentum tersebut sekaligus menjadi perjalanan kembali ke masa ketika dirinya menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor pada era 1970-an.
Gontor meninggalkan jejak penting dalam perjalanan pendidikan dan pengabdian Kiai Abdul Dalil. Ilmu, pengalaman, kedisiplinan, nilai-nilai kepesantrenan, dan wawasan yang diperolehnya selama menjadi santri kemudian menjadi bekal dalam menjalani perjalanan dakwah dan pengabdian di tengah masyarakat.
Pengalaman pendidikan itu pula yang turut memberi inspirasi ketika Kiai Abdul Djalil mendirikan dan mengembangkan Pondok Pesantren Darul Aman di Gombara, Makassar, Sulawesi Selatan. Nilai pendidikan pesantren yang menekankan pembentukan karakter, penguasaan ilmu, kemampuan berbahasa, dan kemandirian terus dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.
Kepulangannya ke Gontor juga menghadirkan perjumpaan dengan sejumlah sahabat lama yang pernah bersama-sama menjalani kehidupan sebagai santri. Pertemuan tersebut menjadi ruang nostalgia sekaligus kesempatan mengenang perjalanan panjang yang telah ditempuh sejak meninggalkan pesantren.
Kiai Abdul Djalil juga bersilaturahmi dengan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor serta keluarga besar Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor. Perjumpaan itu semakin memperkuat makna kunjungannya dalam momentum satu abad perjalanan lembaga pendidikan tersebut.
Menurut Kiai Abdul Djalil, perjalanan panjang Gontor memperlihatkan bahwa keberlangsungan sebuah lembaga pendidikan membutuhkan visi yang kuat, konsistensi dalam menjaga nilai, serta kaderisasi yang terus berlangsung dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Seratus tahun menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya dibangun untuk menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga harus dipersiapkan agar mampu melintasi zaman.
Bekal Santri Darul Aman
Pengalaman kembali ke Gontor sekaligus menjadi momentum bagi Kiai Abdul Djalil untuk menegaskan kembali arah pendidikan Pondok Pesantren Darul Aman. Ia melihat Darul Aman memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan memberikan kontribusi yang semakin luas pada masa mendatang.
Karena itu, pendidikan para santri diarahkan untuk membentuk pribadi yang memiliki kekuatan dalam menghafal 30 juz Al-Qur'an, memahami ilmu agama secara holistik, menguasai bahasa, serta mempunyai keterampilan hidup. Seluruh kemampuan tersebut harus tumbuh secara beriringan agar santri memiliki kesiapan menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan fondasi keislamannya.
Kiai Abdul Djalil menilai perpaduan tersebut penting untuk melahirkan generasi yang memiliki kekuatan spiritual dan intelektual sekaligus kemampuan berkomunikasi dan keterampilan yang relevan. Santri tidak cukup hanya memiliki kedalaman ilmu, tetapi juga perlu mempunyai kapasitas untuk mengaktualisasikan ilmunya di tengah masyarakat.
“Insyaallah, Darul Aman juga memiliki potensi yang sama besarnya untuk terus maju dan berkembang dari waktu ke waktu. Karena itu, kita harus mempersiapkan santri dengan bekal yang kuat: Al-Qur’an, bahasa Arab dan Inggris, serta keterampilan hidup,” pesan Kiai Haji Abdul Djalil.
Santri dan Masa Depan
Sementara itu, Sekretaris Yayasan Buq'atun Mubarakah Ahmad Sahal menyampaikan apresiasi atas perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor yang telah mencapai usia satu abad. Menurutnya, perjalanan tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang pendidikan pesantren di Indonesia.
Ia mengatakan pesantren selama ini turut berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia, pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan akhlak al-karimah, serta melahirkan generasi yang memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Karena itu, momentum satu abad Gontor juga dapat dibaca sebagai bagian dari perjalanan panjang kontribusi pesantren bagi Indonesia.
Ahmad Sahal mengajak para santri di seluruh Indonesia untuk memiliki kebanggaan sekaligus rasa syukur atas kesempatan memperoleh pendidikan di pesantren. Identitas sebagai santri, menurut dia, harus diterjemahkan menjadi semangat untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Seluruh santri di Indonesia harus senantiasa bangga dan bersyukur telah ditakdirkan menjadi santri. Santri memiliki peran penting dalam perjalanan pembangunan Indonesia, berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, peningkatan akhlak al-karimah, serta menciptakan generasi-generasi unggul untuk hari ini dan masa yang akan datang,” ungkapnya.