Padang (ANTARA) - Sanggar Bujang Saiyo Laban dari Pesisir Selatan menghidupkan kembali tradisi Babiola dan Tari Babuai saat dimainkan pada Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat.
Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid menyampaikan apresiasi yang tinggi atas konsistensi para seniman Pesisir Selatan dalam merawat warisan leluhur mereka.
"Penampilan dari Sanggar Bujang Saiyo Laban membuktikan bahwa identitas lokal Pesisir Selatan memiliki karakter musikal dan koreografi yang sangat kuat serta memikat generasi masa kini," ujar M. Devid di Padang, Kamis.
Pihaknya ingin Taman Budaya Sumbar menjadi ruang kreatif di mana warisan leluhur tidak sekadar dihafal, tetapi dihidupkan kembali agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, kehadiran dua kesenian tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa tema Saraso Fest 2026, "Menghidupkan Rasa, Menajamkan Makna, Mengasah Talenta Muda," berhasil diimplementasikan di atas panggung.
Devid menjelaskan, Babiola merupakan seni pertunjukan tutur lisan tradisional dari Pesisir Selatan berupa penuturan cerita berirama yang diiringi oleh gesekan instrumen rabab Pasisia.
Uniknya, masyarakat setempat kerap menyebut instrumen bertali empat ini sebagai "biola" karena pengaruh sejarah kolonial Portugis dan Belanda yang cukup lama di kawasan tersebut.
Meski sekilas organologinya mirip dengan keman dari Turki, rabab Maroko, ataupun biola Barat, instrumen ini memiliki karakteristik tersendiri.
Tali nomor empat pada instrumen Babiola hanya berfungsi sebagai pembantu getaran tali lainnya (sympathetic string).
Karakter musikal dan warna bunyi yang dihasilkan dirancang khusus agar serasi untuk melahirkan melodi lagu-lagu berkarakter khas Pesisir Selatan, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh biola Barat konvensional.
Tidak kalah memukau, Tari Babuai menghadirkan gerak komunal yang ekspresif yang diperkirakan mulai diperkenalkan secara luas sejak tahun 1970-an ini awalnya ditarikan oleh penari laki-laki.
Secara tradisi, kesenian tari ini lazim dipertunjukkan dalam berbagai perhelatan adat penting di Pesisir Selatan, seperti alek datuak, tradisi balimau paga, hingga pesta pernikahan masyarakat setempat.
M. Devid menambahkan bahwa rangkaian utama Saraso Fest 2026 yang berlangsung dari 28 September hingga 3 Oktober 2026 ini sengaja mengolaborasikan kesenian tradisi dari 10 kabupaten/kota di Sumatera Barat bersama dengan kreasi kontemporer.
Melalui festival ini, diharapkan ketukan dawai Babiola dan langkah dinamis Tari Babuai dari Pesisir Selatan dapat terus terjaga eksistensinya di tengah arus modernisasi. (*)