Elephants

Rusia minta AS jelaskan kesepakatan Alaska sebelum usul damai Ukraina - ANTARA News Gorontalo

July 28, 2026

Istanbul (ANTARA) - Rusia mendesak Amerika Serikat untuk mengklarifikasi situasi terkait "kesepakatan" antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan puncak mereka di Alaska, sebelum mengajukan usulan baru soal perdamaian Ukraina.

Dalam konferensi pers di Rzhev, wilayah Tver, Rusia, Senin (27/7), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia Maria Zakharova menanggapi pernyataan Menlu AS Marco Rubio yang menyebut usulan saat pertemuan puncak di Alaska pada Agustus tahun lalu telah gagal.

"Muncul sebuah pertanyaan logis, yang entah mengapa belum dijawab oleh Departemen Luar Negeri AS maupun pihak lain mana pun; siapa sebenarnya yang gagal menerapkan 'Formula Anchorage', yang sebenarnya bisa saja membawa perdamaian?" kata Zakharova.

Terkait klarifikasi mengenai masalah itu, terutama terkait seberapa cepat Departemen Luar Negeri AS menangani masalah tersebut, Zakharova mengatakan Rusia menegaskan kembali kesiapan untuk mencari penyelesaian diplomatik atas perang yang sedang berlangsung, tetapi didasarkan pada kesepahaman bersama yang telah dicapai, termasuk di Alaska.

Juru bicara itu juga menegaskan kembali kesiapan Rusia untuk membahas kemungkinan diskusi, usulan, dan gagasan terkait masalah itu.

"Namun, sejujurnya, karena Anda mengutip pernyataan Bapak Rubio ini, mungkin pertama-tama sebelum membahas hal baru, mungkin masih tepat untuk mengklarifikasi hal-hal lama, khususnya dalam diskusi-diskusi yang telah berlangsung mengenai gagasan-gagasan terkait," tambah Zakharova.

Dalam konferensi pers di sela-sela KTT ASEAN, Kamis (23/7), Rubio menanggapi pertanyaan mengenai usulan-usulan di Alaska dan relevansinya saat ini, dengan mengatakan bahwa usulan-usulan tersebut telah gagal.

"Kesepakatan damai tidak mungkin tercapai kecuali kedua belah pihak menyetujuinya dan pihak Ukraina tidak akan menyetujuinya. Sehingga, itulah sebabnya upaya tersebut gagal. Jadi, kita harus mencari usulan dan gagasan baru, karena jelas usulan itu tidak dapat diterima di Ukraina pada saat itu dan saya rasa usulan itu juga tidak dapat diterima oleh mereka sekarang. Bahkan, kemungkinan besar usulan itu kini semakin tidak dapat diterima oleh mereka,” kata Rubio.

Ketika perdamaian tercapai, tambah Rubio, hal itu akan terjadi berkat gagasan dan konsep-konsep baru. Pihak AS pun siap untuk mengajukan gagasan dan konsep itu dalam suasana dan forum yang tepat, katanya.

"Jika kesempatan itu muncul dan kondisinya tepat, maka kami siap memainkan peran tersebut secara positif," ucap Rubio.

Para pejabat Rusia belakangan ini menuduh AS menyimpang dari "kesepahaman" yang dicapai selama pertemuan puncak antara Putin dan Trump di Anchorage, Alaska.

Kedua presiden itu bertemu di Anchorage, sebuah kota di negara bagian Alaska, AS, pada Agustus 2025, dan menghasilkan rencana perdamaian berisi 28 poin, yang kemudian direvisi menjadi 20 poin.

Namun demikian, Ukraina dilaporkan menolak konsesi teritorial apa pun, sehingga tidak ada kesepakatan untuk melanjutkan proses.

Ancaman terhadap pasar energi

Zakharova juga mengomentari berbagai isu lain soal kebijakan luar negeri Rusia, dengan menyatakan bahwa upaya untuk melemahkan kerja sama energi Rusia dengan para mitranya melalui sanksi di tengah ketegangan yang sedang berlangsung di Selat Hormuz akan menyebabkan ketidakstabilan pasar yang semakin parah.

Hal itu juga akan menyebabkan fragmentasi perdagangan global, inflasi, penurunan kesejahteraan, dan memburuknya prospek pertumbuhan di sebagian besar negara di dunia; sehingga berdampak pada negara-negara termiskin yang bergantung pada impor energi, pupuk, dan pangan.

Zakharova menambahkan Rusia akan segera mengumumkan langkah-langkah balasan terhadap paket sanksi ke-21 Uni Eropa dan menyatakan hubungan Rusia dan London jadi memburuk akibat "langkah-langkah anti-Rusia" yang diambil Inggris.

Rusia juga terus memantau dengan cermat pernyataan-pernyataan Jepang terkait senjata nuklir.

Dalam konteks ini, dia mengatakan bahwa kemungkinan dimasukkannya unsur nuklir ke dalam "proses remiliterisasi yang dipercepat" oleh Tokyo akan menimbulkan "tantangan baru" bagi keamanan Rusia.

"Kami secara khusus membicarakan wilayah Timur Jauh. Hal ini tidak akan berkontribusi pada stabilitas regional secara umum," ujar Zakharova.

Sumber: Anadolu

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rusia minta AS jelaskan kesepakatan Alaska sebelum usul damai Ukraina

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.