REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rusia melancarkan salah satu serangan rudal balistik terbesar ke Ukraina sejak perang skala penuh dimulai pada Sabtu (19/7/2026). Sedikitnya 41 rudal dan 125 pesawat nirawak (drone) diluncurkan dalam serangan semalam, dengan sebagian besar rudal diarahkan ke ibu kota Kyiv.
Berdasarkan data Angkatan Udara Ukraina yang dikutip Ukrainska Pravda, serangan tersebut melibatkan 25 rudal balistik Iskander-M atau rudal yang diluncurkan dari sistem pertahanan udara S-400, 10 rudal hipersonik Zircon, tiga rudal jelajah Oniks, serta tiga rudal berpemandu Kh-59 atau Kh-69.
Ukraina mengklaim berhasil mencegat atau menekan 126 dari total 166 senjata yang diluncurkan Rusia, terdiri atas 18 rudal dan 108 drone. Namun, 23 rudal dan 10 drone tetap berhasil menghantam 20 lokasi, sementara serpihan rudal dan drone jatuh di 18 lokasi lainnya.
Menurut Associated Press, serangan tersebut menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai 16 lainnya di Kyiv. Kebakaran dan kerusakan juga dilaporkan terjadi di lima distrik ibu kota.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan sebagian besar rudal Rusia memang ditujukan ke Kyiv. Sementara CNN menyebut operasi tersebut sebagai salah satu serangan rudal balistik terbesar yang pernah dilakukan Rusia sejak invasi dimulai pada Februari 2022.
Angkatan Udara Ukraina menyatakan berhasil mencegat 17 rudal dari kelompok Iskander-M, Zircon, dan rudal yang ditembakkan dari sistem S-400, serta satu rudal Kh-59 atau Kh-69. Keberhasilan itu menunjukkan sistem pertahanan udara Ukraina masih mampu menghadapi ancaman rudal balistik selama memiliki persediaan rudal pencegat yang memadai.
Rudal balistik merupakan salah satu ancaman paling sulit dihadapi dibandingkan drone. Kecepatan tinggi dan lintasan terbangnya memberikan waktu yang sangat singkat bagi operator pertahanan udara untuk melakukan deteksi dan intersepsi.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan serangan tersebut menyasar fasilitas produksi industri pertahanan dan logistik Ukraina. Moskow mengklaim telah menghantam fasilitas yang berkaitan dengan produksi drone Flamingo, rudal Neptune, sistem nirawak, serta perangkat peperangan elektronik. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Serangan itu juga kembali menunjukkan kemampuan Rusia mengombinasikan berbagai jenis senjata dalam satu gelombang operasi, mulai dari drone, rudal jelajah, rudal balistik hingga rudal hipersonik Zircon.