Banda Aceh (ANTARA) - Rumah Garam Aceh menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan industri garam Aceh untuk lima tahun ke depan sebagai acuan sektor pergaraman guna meningkatkan nilai tambah dan daya saing garam lokal.
Ketua Rumah Garam Aceh, T Tansri Jauhari, di Banda Aceh, Rabu mengatakan, penyusunan peta jalan tersebut merupakan bagian dari hasil diskusi panel yang digelar berbagai pihak, dan disinergikan dengan program Pemerintah Aceh.
“Output utama yang kita harapkan adalah lahirnya roadmap pergaraman Aceh. Dengan adanya peta jalan ini, pengembangan garam di Aceh memiliki arah yang jelas untuk lima tahun ke depan,” kata T Tansri Jauhari.
Pernyataan itu disampaikan T Tansri Jauhari dalam diskusi panel tentang Potensi, Peluang, Tantangan dan Legalisasi usaha garam Aceh yang diikuti oleh petani garam, akademisi, pelaku UMKM, perbankan, dan perwakilan pemerintahan di Aceh, di Banda Aceh.
Sebagai informasi, Rumah Garam Aceh merupakan lembaga yang menghimpun petani dan pelaku usaha dalam pengembangan industri garam di Aceh.
Tansri menyampaikan, peta jalan tersebut segera disusun melalui kolaborasi pemerintah Aceh, sehingga mendapatkan pedoman pengembangan sektor pergaraman Aceh masa depan.
Menurutnya, Aceh memiliki potensi besar dalam pengembangan garam dengan kadar natrium klorida (NaCI) mencapai 90-94 persen. Tetapi, kondisi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena masih terkendala, standar produksi, legalitas usaha, sertifikasi, pembiayaan dan pemasaran.
"Saat ini sekitar 80 persen kebutuhan garam Aceh atau sekitar 36 ribu ton per tahun masih dipenuhi dari luar daerah, maka dari itu dibutuhkan penguatan produksi lokal melalui hilirisasi dan peningkatan kualitas," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Aceh, Reza Ferdian menyampaikan bahwa kebutuhan garam di Aceh mencapai sekitar 46 ribu ton per tahun, sedangkan produksi lokal baru sekitar 10 ribu ton per tahun.
"Kondisi ini, menjadi peluang untuk mengembangkan industri garam modern melalui peningkatan teknologi produksi, penguatan kelembagaan petani, serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan perbankan," demikian Reza Ferdian.
Pewarta: Siti Bararah Yasmin
Editor : M Ifdhal
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.