Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:17 WIB
Jakarta, VIVA – Indonesia terus mendorong hilirisasi industri untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok global kendaraan listrik. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkap ambisi Indonesia untuk membangun ekosistem lengkap baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), mulai dari material hingga proses daur ulang baterai.
Baca Juga
Hal itu disampaikan Rosan saat melaporkan perkembangan investasi dan proyek hilirisasi dalam agenda groundbreaking 11 ekosistem hilirisasi nikel serta ekspor perdana baterai EV di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, Kamis, 8 Oktober 2026.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Rosan mengatakan, pembangunan berbagai proyek baru di kawasan industri tersebut akan membuat rantai ekosistem baterai kendaraan listrik semakin lengkap. Menurut dia, pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong hilirisasi yang pada akhirnya bermuara pada industrialisasi.
Baca Juga
"Jadi, ini akan menjadikan the whole ecosystem sudah ada di sini, kita akan menjadikan rantai pasok global baterai kendaraan listrik," kata Rosan dalam laporannya.
Ekosistem Baterai EV Dibangun dari Hulu hingga Daur Ulang
Baca Juga
Rosan menjelaskan, proyek-proyek yang dikembangkan di kawasan industri tersebut mencakup berbagai mata rantai industri kendaraan listrik. Pengembangannya bergerak dari material baterai berbasis nikel, produksi baterai, hingga berbagai komponen pendukung.
Empat proyek yang telah selesai mencakup baterai berbasis nikel, produksi baterai, aluminium elektrolitik, serta alat berat berbasis listrik. Sementara itu, enam proyek lainnya memasuki tahap groundbreaking dengan nilai investasi mencapai US$6,8 miliar atau sekitar Rp120 triliun.
Proyek baru tersebut mencakup material baterai berbasis nikel, separator baterai EV, elektrolit baterai EV, aluminium elektrolitik, alat berat berbasis listrik untuk kebutuhan pertambangan dan industri, serta photovoltaic glass untuk industri energi surya.
Dari rangkaian proyek tersebut, Rosan menilai Indonesia tidak hanya membangun industri pengolahan bahan mentah, tetapi juga memperluas rantai industri hingga produk yang berkaitan langsung dengan kendaraan listrik.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bahkan, menurut dia, pengembangan proyek-proyek baru di kawasan tersebut nantinya akan memungkinkan Indonesia memiliki ekosistem baterai EV secara menyeluruh hingga proses daur ulang.
"Di Morowali ini, dengan proyek-proyek yang baru ini, ini akan menyebabkan kita mempunyai the whole ecosystem of EV battery sampai dengan recycle baterainya," ujar Rosan.
Halaman Selanjutnya
Total Investasi 10 Proyek Capai Rp180 Triliun