Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan sebuah distrik sekolah di Amerika Serikat untuk menggunakan robot buatan perusahaan yang terkenal dengan produk boneka seksnya memicu perdebatan panas di kalangan orang tua, pendidik, dan pengamat teknologi.
Distrik Sekolah Pusat Kota Salamanca, New York, dilaporkan telah meneken kontrak senilai US$57.590 (sekitar Rp900 juta) dengan perusahaan robotika Realbotix untuk menempatkan robot bernama Sally sebagai asisten pengajar di kelas tingkat SMA, mulai semester ini.
Keputusan ini menuai sorotan tajam karena Realbotix merupakan kelanjutan dari Abyss Creations, produsen boneka seks terkenal bermerek RealDoll. Perusahaan ini bahkan pernah memperkenalkan robot seks laki-laki pertama pada tahun 2022. Meskipun pihak perusahaan menyatakan Sally dirancang khusus untuk keperluan pendidikan, bentuk fisiknya yang memiliki kulit silikon menyerupai produk buatan mereka sebelumnya memicu keraguan banyak pihak.
Sally akan digunakan dalam mata pelajaran Sains, Teknologi, Rekayasa, Seni, dan Matematika (STEM). Robot ini diklaim mampu menyusun materi ajar, menerjemahkan lebih dari 100 bahasa secara langsung, hingga memberikan petunjuk kepada guru jika lupa alur penyampaian pelajaran. Pihak sekolah juga memastikan Sally tidak terhubung langsung ke internet dan diprogram untuk menjawab "saya tidak tahu" jika tidak memiliki informasi yang akurat, guna menghindari kesalahan fakta.
Pilihan Redaksi
- Dunia Bersiap Hadapi Petaka Besar, Tetangga RI Sudah Siaga Penuh
- Manusia Rp2.900 Triliun Mau Investasi AI Data Center di Negeri Ginseng
- Orang Terkaya Dunia Elon Musk Bilang Uang Tak Ada Gunanya Mulai 2036
Kepala distrik sekolah Mark Beehler membenarkan langkah tersebut dengan alasan bahwa melarang penggunaan teknologi bukanlah solusi terbaik.
"Siswa pasti akan menemukan cara untuk melanggar aturan yang dibuat sekolah. Saya percaya tugas sekolah adalah mengajarkan cara menggunakan teknologi dengan benar, bukan sekadar melarangnya," ujarnya.
Namun, banyak pihak yang tidak sependapat. Serikat guru mengecam keputusan tersebut, menyatakan bahwa pendidikan membutuhkan interaksi manusia yang nyata, bukan mesin.
"Masa depan pendidikan bukanlah kecerdasan buatan, melainkan kecerdasan manusia yang tulus yaitu hubungan antarmanusia, bimbingan, dan kesempatan agar setiap anak dikenal dan diinspirasi oleh guru yang hebat," kata Presiden Serikat Guru New York, Melinda Person.
Para orang tua juga mempertanyakan prioritas anggaran sekolah. Wilayah tersebut diketahui memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi dan sebagian besar siswa berasal dari kalangan kurang mampu.
"Kami sudah memiliki banyak masalah di sini. Saya tidak mengerti mengapa harus menambah biaya untuk alat semacam ini," ungkap salah satu orang tua murid.
Pihak sekolah menegaskan bahwa Sally tidak akan pernah menggantikan peran guru, melainkan hanya sebagai alat bantu pembelajaran. Namun, perdebatan ini menyoroti dilema yang dihadapi dunia pendidikan saat ini: bagaimana mengadopsi kemajuan teknologi tanpa kehilangan esensi kemanusiaan dalam proses belajar-mengajar.
(dem/dem)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]