Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah netizen di dunia ramai-rama menduga Israel berada di balik 50 ribu migran ilegal dari Maroko menyerbu wilayah otonomi khusus Spanyol di Pulau Ceuta.
Pulau Ceuta berada di utara Maroko, namun diakui sebagai bagian khusus dari Spanyol di Selat Gibraltar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ramai di media sosial memperbincangkan migran ilegal dari Maroko yang menyerbu pulau Ceuta diduga netizen sebagai bagian dari operasi Israel untuk membalas Sanyol yang mendukung warga Palestina di Jalur Gaza.
Spekulasi itu semakin menjadi-jadi setelah salah satu pengguna medsos mengunggah kembali salah satu artikel media Israel, YNet, yang pernah menulis cara Israel membantu Maroko membantu merebut kembali wilayah Ceuta dan Melilla.
Artikel itu ditulis setelah Pemerintah Maroko bergabung dalam Perjanjian Abraham Accord untuk membuka normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
"Kesepakatan Abraham mencapai Selat: bagaimana Israel dapat membantu Maroko merebut kembali wilayah utaranya," demikian judul artikel analisis yang dipublikasi pada 26 April 2026 tersebut.
"Ketegangan AS-Spanyol mengenai NATO, Iran membuka peluang bagi Maroko untuk mengajukan klaim atas Ceuta dan Melilla, dengan Israel diposisikan untuk mendukung Rabat secara diplomatis dalam aliansi pimpinan AS yang semakin mendukung mitra kerja sama dibandingkan dengan pertahanan Eropa," demikian tulis YNet di paragraf pertama.
Sumber-sumber Israel mengungkapkan bahwa pada Maret peneliti senior di American Enterprise Institute, Michael Rubin, menyerukan Maroko untuk mengorganisir "Pawai Hijau" baru ke wilayah kantong Spanyol, dikutip dari Middle East Monitor.
Dalam tulisannya untuk Middle East Forum yang berbasis di AS, Rubin menyarankan agar warga Maroko mendekati Ceuta dan Melilla dengan buldoser, menyeberang ke wilayah tersebut tanpa senjata, dan mengibarkan bendera Maroko. Rubin membingkai usulan tersebut sebagai tanggapan terhadap apa yang ia gambarkan sebagai kemunafikan anti-kolonial Spanyol.
Secara terpisah media Israel Ynet menulis artikel pada April, merekomendasikan agar Israel dapat menggunakan pengaruhnya di Washington untuk membantu Maroko "merebut kembali" Ceuta dan Melilla.
Penulisnya merupakan peneliti Middle East Forum Amine Ayoub, menyajikan dukungan untuk klaim teritorial Rabat sebagai cara untuk menghukum Spanyol karena menantang kebijakan AS dan Israel.
Ayoub mengusulkan tiga cara bagi Israel untuk memberikan tekanan: sinyal diplomatik langsung untuk mendukung Maroko, melobi melalui Washington, dan berulang kali menuduh Spanyol munafik atas pengakuannya terhadap Palestina.
Ia menyimpulkan bahwa membantu Maroko "merebut kembali" Ceuta dan Melilla akan "menghukum" anggota NATO yang telah menentang kebijakan AS dan Israel.
Usulan-usulan sebelumnya itu telah memicu perdebatan secara daring mengenai krisis terbaru ini. Komentator Bruno Maçães menyoroti artikel April tersebut, mencatat bahwa analis pro-Israel telah mendesak Israel untuk membantu Maroko mengambil alih Ceuta sebagai cara untuk menghukum Spanyol atas dukungannya terhadap Palestina.
Pengguna akun X lainnya kemudian membagikan cuitan anak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Yair Netanyahu pada 2019 di akun X.
"Yang tercinta orang-orang Arab dan Muslim. Ingin membebaskan tanah Arab Muslim yang dijajah? Cara ini awal yang baik!" demikian cuitan Yair dengan mengunggah peta Ceuta.
"Jika situasi di Ceuta adalah akibat dari 'sayap kiri Spanyol anti-Israel', mengapa Yair Netanyahu menyerukan agar orang Arab dan Muslim 'membebaskan Ceuta' pada tahun 2019?" tanya akun influencer di X yang membagikan cuitan Netanyahu yang menyerukan agar umat Muslim mengambil alih Ceuta.
"Seluruh sandiwara ini diatur oleh Zionis untuk memberi pelajaran kepada Spanyol dan menjadi contoh bagi negara-negara lain jika mereka tidak patuh," demikian lanjut unggahan akun @Villgecrazylady.
Mencuat pula rincian mengenai bantahan dari diplomat senior Israel, Dana Erlich pada April lalu yang membantah bahwa pemerintah Tel Aviv mempertimbangkan untuk mendukung klaim Maroko atas Ceuta dan Melilla. Ia menegaskan bahwa masalah tersebut bukanlah prioritas pemerintah PM Netanyahu.
Artikel-artikel itu dimunculkan kembali saat puluhan ribu warga Maroko menyeberang ke Pulau Ceuta, Spanyol. Sejauh ini total 57 orang tewas karena nekat menyeberang melalui laut.
Aksi puluhan ribu warga Maroko itu pun memaksa Spanyol mengerahkan pasukan militer dan kepolisian untuk mencegah serbuan warga Maroko.
Kecurigaan ini juga sangat terkait dengan perselisihan Mei 2021, ketika sekitar 8.000 orang memasuki Ceuta setelah penjagaan perbatasan Maroko diduga dilonggarkan selama perselisihan diplomatik dengan Spanyol.
Menteri Pertahanan Spanyol saat itu menuduh Maroko melakukan "pemerasan", sementara masuknya pengungsi secara luas ditafsirkan sebagai pembalasan atas keputusan Madrid untuk memberikan perawatan medis kepada pemimpin Front Polisario Sahara Barat, Brahim Ghali.
Hubungan militer dan intelijen Maroko yang erat dengan Israel telah menambah santer spekulasi. Kedua negara menandatangani perjanjian pertahanan pada 2021 yang mencakup kerja sama intelijen, pengadaan militer, dan industri pertahanan. Drone buatan Israel dan senjata lainnya sejak itu menjadi bagian yang semakin penting dari modernisasi militer Maroko.
(bac)
[Gambas:Video CNN]