Bandarlampung (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menyatakan produk pupuk organik dari pengolahan sampah pasar oleh komunitas dan yayasan pemerhati lingkungan memiliki peluang untuk dikembangkan secara luas.
"Pupuk organik yang dihasilkan dari pengolahan sampah pasar memiliki peluang untuk dikembangkan, namun diperlukan uji efektivitas untuk mengetahui dampaknya terhadap pertumbuhan dan hasil produksi tanaman," ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung Elvira Umihanni di Bandarlampung, Rabu.
Ia mengatakan adanya uji efektivitas tersebut dapat dilakukan dengan membuat demplot.
"Uji efektivitas ini seperti demplot, untuk melihat sejauh mana efektivitas produk terhadap kebutuhan pertanaman. Kalau tidak dijual, mungkin polanya bisa melalui pemberdayaan," katanya.
Ia menyarankan agar pilot project di Desa Fajar Baru dapat melibatkan kelompok tani atau Kelompok Wanita Tani (KWT). Dengan demikian pupuk organik tersebut dapat langsung diuji pada tanaman, sekaligus diketahui dampaknya terhadap kualitas dan hasil produksi pertanian.
Dengan pemanfaatan sampah pasar menjadi pupuk organik dapat menjadi keunggulan yang bisa menarik minat pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi Lampung untuk mengembangkan pola serupa.
"Kabupaten dan kota pasti sangat tertarik, karena memang kita masih memiliki masalah sampah di pasar-pasar yang belum tertangani, termasuk pemilahan sampah yang belum berjalan," ucapnya.
Sementara itu Ketua Yayasan Muda Inspirasi Restorasi Zakat Alam Provinsi Lampung Adyanta Karo Karo mengatakan sekitar 61 persen sampah pasar merupakan sampah organik, seperti sisa sayur dan buah, makanan, daun, kayu, serta bahan organik lainnya. Kondisi tersebut dinilainya memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pupuk organik sekaligus mendukung ketahanan pangan.
"Saat ini kami telah melakukan uji coba pengolahan sampah pasar di Desa Fajar Baru, Lampung Selatan. Sampah pasar dari Jatimulyo dikumpulkan, dicacah, kemudian diproses melalui fermentasi dengan tambahan bahan organik lainnya, seperti kotoran hewan dan limbah kelapa muda," katanya.
Menurut dia, salah satu persoalan yang dihadapi saat ini adalah sampah pasar masih banyak yang langsung dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) tanpa melalui proses pemilahan dan pengolahan.
Selain itu pemilahan secara manual membutuhkan waktu cukup lama, sehingga sebagian sampah organik telah mengalami proses pembusukan sebelum diolah.
Karena itu, pihaknya berharap adanya dukungan pemerintah, khususnya dalam penyediaan pasokan sampah pasar, distribusi produk pupuk organik, serta pengembangan produk tersebut agar dapat menjadi salah satu produk unggulan.
"Kami mengusulkan ada penguatan edukasi dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Serta pasar dapat menyediakan wadah terpisah untuk sampah organik dan anorganik, sehingga sampah organik dapat langsung dikelola dan sampah anorganik dibawa ke tempat pemrosesan akhir," ucapnya.
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.