Puluhan anggota Deaf Family Solo Raya ikut workshop habilitasi pendengaran
Minggu, 19 Juli 2026 19:25 WIB
Workshop soal Habilitasi Pendengaran dan Optimalisasi Alat Bantu Dengar/Cochlear Implant di Balai Desa Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (19/7/2026). ANTARA/Aris Wasita
Boyolali (ANTARA) - Puluhan anggota Deaf Family Solo Raya (DFSR) beserta orang tua mengikuti workshop soal Habilitasi Pendengaran dan Optimalisasi Alat Bantu Dengar/Cochlear Implant di Balai Desa Sobokerto, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu.
Kegiatan yang diselenggarakan secara kolaboratif oleh Kemendiktisaintek Berdampak, DFSR, Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (PERHATI-KL) Cabang Solo, serta Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) ini menjadi upaya meningkatkan kualitas habilitasi pendengaran pada anak dengan gangguan pendengaran terus diperkuat melalui pemberdayaan keluarga.
Ketua penyelenggara Dr. dr. Novi Primadewi mengatakan workshop tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga dalam mendampingi anak yang menggunakan alat bantu dengar maupun cochlear implant. Kegiatan tersebut menekankan pentingnya peran keluarga sebagai pendamping utama dalam proses habilitasi pendengaran.
Ia mengatakan keberhasilan habilitasi pendengaran tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi alat bantu dengar atau cochlear implant, tetapi juga sangat bergantung pada keterlibatan aktif orang tua dalam memberikan stimulasi pendengaran secara konsisten setiap hari.
“Orang tua merupakan terapis pertama dan pendamping utama bagi anak dalam proses belajar mendengar dan berbahasa. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, keluarga menjadi faktor penentu keberhasilan habilitasi pendengaran,” ujarnya.
Ia mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan menjadi model sinergi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan komunitas dalam mengembangkan layanan habilitasi pendengaran berbasis keluarga.
“Selain memberikan manfaat melalui workshop, program ini juga menghasilkan berbagai luaran berupa Logbook DFSR, materi edukasi, serta video pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh keluarga anak dengan gangguan pendengaran di berbagai daerah,” katanya.
Salah satu tim ahli Dr. dr. Dewi Pratiwi, menjelaskan kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan, kepercayaan diri, dan kemandirian orang tua dalam mendampingi anak menggunakan alat bantu dengar maupun cochlear implant.
“Dengan demikian anak memperoleh kesempatan yang lebih baik untuk berkembang, berkomunikasi, berinteraksi, serta berpartisipasi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari. Dengar Lebih Baik, Berbicara Lebih Baik, Berkembang Lebih Optimal,” ujarnya.
Pada kegiatan itu peserta mendapatkan berbagai materi praktis, mulai dari konsep dasar pendengaran, Auditory Hierarchy, Listening Age, pentingnya penggunaan alat bantu dengar maupun cochlear implant minimal sepuluh jam setiap hari, Daily Listening Check, Ling Six Sound Test, hingga penanganan sederhana (troubleshooting) terhadap alat bantu dengar dan cochlear implant.
Selain penyampaian materi, workshop juga dilengkapi sesi praktik langsung. Para orang tua dilatih melakukan pemeriksaan fungsi alat bantu dengar, listening check, serta simulasi evaluasi pendengaran yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan keterlibatan keluarga sehingga perkembangan kemampuan mendengar dan berbahasa anak dapat dipantau secara berkesinambungan.
Dalam kesempatan tersebut juga diperkenalkan Logbook DFSR, yaitu buku pendamping yang dirancang sebagai media monitoring penggunaan alat bantu dengar maupun cochlear implant. Logbook ini memuat pencatatan penggunaan alat setiap hari, hasil Ling Six Sound Test, stimulasi pendengaran, serta perkembangan kemampuan anak.
Ke depan, logbook tersebut akan dilengkapi dengan video pembelajaran sehingga menjadi media edukasi yang lebih interaktif bagi keluarga.
Tidak hanya berfokus pada edukasi, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pelayanan pemeriksaan telinga serta tindakan aural toilet (pembersihan telinga) oleh dokter spesialis THT-BKL bagi peserta yang memiliki indikasi medis. Pemeriksaan ini bertujuan menjaga kesehatan liang telinga agar penggunaan alat bantu dengar maupun cochlear implant dapat memberikan manfaat secara optimal.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Boyolali dr. Yustinus Slamet Nugroho menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, kerja sama antara IDI Boyolali dan PERHATI-KL berpotensi dikembangkan melalui berbagai kegiatan sosial di bidang kesehatan telinga, termasuk pemeriksaan pendengaran bagi anak-anak sekolah dasar.
“Kami siap bersinergi dengan PERHATI-KL, pemerintah daerah, dan Dinas Kesehatan untuk mengembangkan program bakti sosial, termasuk pemeriksaan kesehatan telinga bagi siswa sekolah dasar. Banyak gangguan pendengaran pada anak yang dapat dideteksi lebih dini, misalnya akibat penumpukan kotoran telinga maupun penyebab lainnya,” ujarnya.
Ketua Deaf Family Solo Raya Yeniati Manurung juga mengapresiasi terselenggaranya workshop tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin agar semakin banyak keluarga yang memperoleh pengetahuan dan pendampingan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, khususnya keluarga yang tergabung dalam Deaf Family Solo Raya. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat diselenggarakan secara berkelanjutan,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Pemerintah Desa Sobokerto yang merasa bangga menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Pemerintah desa menyatakan siap kembali mendukung apabila kegiatan serupa dilaksanakan di masa mendatang.
“Mewakili masyarakat Desa Sobokerto, kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Kami dengan senang hati membuka pintu apabila desa kami kembali dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan pelayanan kesehatan seperti ini,” ujar Sekretaris Desa Sobokerto Maulana Malih.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.