Timika (ANTARA) - PT Freeport Indonesia menyebutkan bahwa program Papua Athletics Center (PAC) dan Papua Football Academy (PFA) yang digagas oleh perusahaan itu terus menujukan kemajuan dalam membina atlet Papua baik di bidang olahraga sepak bola dan atletik.
Manajer Sport Manajemen PTFI Janjai Adii di Timika, Selasa, mengatakan program PAC maupun PFA mulai dilaksanakan di Mimika pada 2022 usai penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XX di Papua.
"Sejauh ini untuk perkembangan portofolio olahraga yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia melalui program PAC dan PFA menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang sangat baik sekali," ujarnya.
PAC menjadi pusat pelatihan untuk menjaring dan membina atlet muda berbakat agar berpartisipasi di tingkat nasional maupun internasional. Sementara PFA, lembaga akademi olahraga sepak bola putra usia fokus membina anak anak Papua untuk menjadi pesepak bola profesional berprestasi baik secara nasional dan juga internasional.
Seluruh pusat pelatihan pembinaan olahraga baik itu PAC maupun PAF dipusatkan di Mimika Sport Complex (MSC), salah satu gelanggang olahraga berstandar internasional yang dibangun oleh PTFI di Kota Timika, ibu kota Kabupaten Mimika,Papua Tengah.
Janjai mengatakan program ini merupakan hal yang baru dalam membangun dunia olahraga di tanah Papua sehingga menjadi tantangan tersendiri, membutuhkan masukan dari orang-orang yang berpengalaman di bidang olahraga secara khusus di sepak bola maupun atletik.
Berbagai cara terus dikembangkan oleh PTFI dengan program-program pembinaan atlet dengan berkolaborasi bersama Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk olahraga sepak bola dan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) untuk olahraga atletik.
"Tentunya dengan bekat pengalaman yang mereka miliki itu menjadi satu amunisi yang kuat bagi kami, untuk bisa mengembangkan program yang kami jalankan," ujarnya.
Sejak program PAC dan PFA dilaksanakan, berbagai prestasi telah diukir oleh para atlet dalam mengikuti berbagai turnamen baik itu dilaksanakan di tingkat regional, nasional maupun internasional.
"Sehingga mulai banyak atlet Papua yang di bina di PAC dan PFA saat ini yang sudah mulai menunjukkan hasil yang memuaskan untuk mengharumkan nama Papua bagi Indonesia." beber Janjai.
Ia menambahkan, dalam mengembangkan program ini tentunya ada tantang dan hambatan yang dihadapi. Hambatan yang paling besar adalah bagaimana mencari sumber daya manusia khususnya anak-anak Papua menjadi tantangan tersendiri.
Sebab untuk mencari potensi anak-anak yang memiliki bakat harus mendatangi berbagai daerah di Papua. Hal itu dinilai tidak mudah, mengingat keterbatasan akses, bahkan fasilitas yang tersedia.
Lantaran itu, pihak manajemen sport PTFI mencoba membuat sebuah program dengan mendesain alternatif-alternatif seperti mengadakan mini turnamen supaya bisa melihat potensi-potensi yang selama ini belum terlihat dengan jelas.
"Dengan demikian kita bisa benar-benar merekrut anak-anak Papua yang benar-benar memiliki cita-cita, mereka yang memiliki bakat dan kemampuan dalam bidang olahraga," ujarnya
Menurut Janjai, saat ini PAC dan PFA mendapatkan dukungan besar dari masyarakat Papua karena hasil dari atlet atlet yang dibina menjadi kebanggaan para orang tua dan daerah.
"Kami tidak hanya mengejar prestasi tetapi juga mengembangkan keperibadian, kedisiplinan, kepercayaan diri dan juga karakter yang ditunjukkan saat mereka kembali bersama berkumpul bersama keluarga dan menujukan satu perubahan perilaku yang berbeda dari sebelumnya. Banyak orang tua mengapresiasi program ini agar tetap terus berlanjut agar bisa menjadi dampak yang lebih luas lagi bagi Tanah Papua," kata Janjai. (*/)
Pewarta: Marselinus Nara
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.