Jakarta, CNBC Indonesia - Profesi kurir pengantar paket berpotensi menghadapi pergeseran lanskap pekerjaan secara masif seiring langkah Amazon yang terus memperluas layanan pengiriman menggunakan pesawat nirawak (drone). Raksasa teknologi dan e-commerce asal Amerika Serikat (AS) tersebut menargetkan armada drone miliknya sanggup menjangkau ratusan kota di AS hingga akhir 2026.
Mengutip Reuters, Jumat (21/8/2026), layanan pengiriman drone milik Amazon sejauh ini baru beroperasi secara terbatas di 11 lokasi yang mencakup beberapa komunitas di sekitarnya.
Lewat skema ekspansi teranyar, Amazon memproyeksikan daya jangkau layanan Prime Air dapat mengekspansi hingga sekitar 500 wilayah. Perusahaan berencana memperluas cakupan operasionalnya, antara lain ke Syracuse (New York) dan kawasan sekitar Cleveland.
Satu fasilitas pusat pengiriman drone Amazon diklaim mampu melayani beberapa kota sekaligus dalam radius 7,5 mil atau sekitar 12 kilometer. Jika rencana ekspansi ini berjalan mulus, keberadaan teknologi otonom ini berpotensi menggerus porsi pekerjaan kurir konvensional yang selama ini mengantarkan pesanan secara langsung ke pintu rumah pelanggan.
Amazon sejatinya telah mengembangkan teknologi ini selama lebih dari satu dekade. Pendiri Amazon, Jeff Bezos, pertama kali mengemukakan konsep pengiriman berbasis drone pada 2013 dan sempat memprediksi bahwa layanan ini bakal beroperasi penuh dalam kurun waktu 4 hingga 5 tahun.
Meski demikian, proses komersialisasi Prime Air memakan waktu jauh lebih lama dari perkiraan awal. Amazon bahkan harus beberapa kali merombak desain drone guna memastikan keamanan dan efisiensi pengiriman.
Model drone terbaru yang diterjunkan Amazon, yakni MK30, dibekali mekanisme pengoperasian yang berbeda dibanding generasi pendahulunya. Drone ini akan melayang (hovering) beberapa meter di atas permukaan tanah sebelum melepaskan paket dengan presisi ke titik tujuan.
Untuk menggunakan jasa ini, Amazon mematok biaya pengiriman sebesar US$ 4,99 (sekitar Rp 81.000). Khusus pelanggan Amazon Prime, biaya tersebut mendapatkan potongan sebesar US$ 2, atau bahkan dibebaskan dari biaya kirim (gratis) untuk pemesanan dengan nilai transaksi minimal US$ 50.
Terbentur Regulasi, Kebisingan, hingga Isu Keselamatan
Kendati menawarkan kecepatan dan otomatisasi tinggi, Amazon masih dibayangi sejumlah tantangan krusial sebelum dapat mengoperasikan armada ini secara massal. Perusahaan wajib mengantongi izin dari regulator di setiap daerah yang menjadi target pasar.
Proses perizinan tersebut tidak jarang melibatkan rapat dengan dewan kota setempat hingga dengar pendapat langsung bersama masyarakat. Sejauh ini, Amazon menyatakan telah mengantongi izin prinsip dari Federal Aviation Administration (FAA) untuk menerbangkan drone di mayoritas wilayah AS.
Di Nampa, Idaho, misalnya, Amazon sempat dihujani pertanyaan oleh warga terkait tingkat kebisingan, faktor keselamatan, hingga zonasi operasional drone dalam rapat perencanaan kota pada Mei lalu.
Eksekutif Amazon, Sam Bailey, menjelaskan bahwa suara drone hanya akan terdengar sekitar 20 detik saat kendaraan turun mendekati tanah untuk melepas paket sebelum terbang kembali ke udara. Ia mengklaim tingkat kebisingan armada drone mereka masih jauh lebih rendah dibandingkan suara mesin pemotong rumput.
Amazon menggarisbawahi bahwa layanan ini sangat krusial untuk membantu kelompok rentan, seperti kaum lansia, orang tua yang harus merawat anak sakit secara mendadak, hingga konsumen yang membutuhkan bahan makanan darurat.
Namun, tidak sedikit warga yang tetap melayangkan protes. Dalam rapat publik di Richardson, Texas, seorang warga mengeluhkan dengungan suara drone yang dinilai merusak ketenangan kawasan permukiman.
Di sisi lain, aspek keselamatan turut menjadi sorotan tajam. Pada Oktober lalu, dua unit drone Amazon dilaporkan menabrak sebuah mesin kerek (crane) di pinggiran Arizona. Insiden kecelakaan udara tersebut saat ini masih dalam investigasi mendalam oleh National Transportation Safety Board (NTSB).
Menyikapi insiden tersebut, Amazon langsung menerapkan penyesuaian teknis, termasuk mengubah standar ketinggian terbang rata-rata serta merevisi rute agar jalur penerbangan lebih banyak melintasi kawasan komersial ketimbang area padat penduduk.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]