Elephants

Prediksi BMKG: Sebagian Besar Jawa Barat Masih Dilanda Kekeringan, Hujan Lokal Berpotensi Turun

July 23, 2026

Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang masih mendukung pembentukan awan hujan secara lokal.

Baca Juga: Alasan Kesehatan, Hotman Paris Mundur dari Pembela Febrie Ardiansyah


Prediksi BMKG Cuaca Jawa Barat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Jawa Barat masih mengalami kondisi kering akibat musim kemarau.

Pada awal Juli 2026, sekitar 56 persen wilayah Jawa Barat tercatat tidak mengalami hujan selama 1 hingga 20 hari, sehingga masuk kategori kekeringan menengah.

BMKG juga mencatat beberapa daerah mengalami kekeringan yang lebih parah. Sekitar 12 persen wilayah Jawa Barat sudah tidak diguyur hujan selama 31 hingga 60 hari.

Daerah yang mengalami kekeringan paling lama adalah Losari, Kabupaten Cirebon, dengan 48 hari berturut-turut tanpa hujan.

Baca Juga: Apa Peran Alami Lahan Gambut dalam Sistem Iklim Global? Ini Penjelasan Lengkap dan Alasan Ilmiahnya

Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah seperti Bekasi bagian barat, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka, Sumedang, Garut, Kabupaten Bandung, Cianjur, dan Sukabumi.

Selain itu, sekitar 18 persen wilayah lainnya mengalami kekeringan selama 21–30 hari. Wilayah yang terdampak antara lain perbatasan Bekasi dan Karawang, sebagian Subang, Purwakarta, Cianjur, Kabupaten Bandung, Majalengka, hingga Kuningan.

Menurut BMKG, berkurangnya curah hujan dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang membuat musim kemarau lebih terasa di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

BMKG memprediksi selama sepekan ke depan masih ada peluang hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di beberapa daerah.

Hujan ini diperkirakan terjadi secara lokal karena masih adanya faktor atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan, seperti aktifnya gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial, suhu permukaan laut yang masih hangat, serta kondisi atmosfer yang cukup labil.

Dengan kata lain, meskipun musim kemarau masih mendominasi dan risiko kekeringan tetap tinggi, sebagian wilayah Jawa Barat masih berpotensi mengalami hujan sesekali, terutama pada wilayah tertentu yang mendapat dukungan kondisi atmosfer.

Oleh karena itu, masyarakat tetap disarankan menghemat penggunaan air sekaligus memantau informasi prakiraan cuaca terbaru dari BMKG untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.


FAQ

1. Mengapa sebagian besar wilayah Jawa Barat mengalami kekeringan?

BMKG menjelaskan bahwa berkurangnya curah hujan dipengaruhi oleh musim kemarau dan fenomena El Nino yang menyebabkan hujan turun lebih sedikit di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.

2. Daerah mana yang mengalami kekeringan paling lama?

Losari, Kabupaten Cirebon, menjadi wilayah dengan kekeringan terpanjang karena tidak diguyur hujan selama 48 hari berturut-turut. Beberapa wilayah lain seperti Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka, Sumedang, Garut, Kabupaten Bandung, Cianjur, dan Sukabumi juga mengalami kekeringan berkepanjangan.

3. Apakah masih ada potensi hujan di Jawa Barat?

Ya. BMKG memperkirakan hujan ringan hingga sedang masih berpotensi turun secara lokal di sejumlah wilayah, terutama dalam sepekan ke depan.

4. Apa yang menyebabkan hujan masih bisa terjadi saat musim kemarau?

Potensi hujan dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer, seperti aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial, suhu permukaan laut yang masih hangat, serta kondisi atmosfer yang cukup labil sehingga mendukung pembentukan awan hujan.

5. Apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat selama musim kemarau?

BMKG mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air, tetap waspada terhadap potensi kekeringan, serta rutin memantau informasi prakiraan cuaca terbaru agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca.


Kesimpulan

BMKG memperkirakan musim kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Jawa Barat dengan kondisi kekeringan yang cukup panjang di beberapa daerah.

Meski demikian, peluang hujan lokal tetap ada karena didukung oleh dinamika atmosfer yang masih aktif.

Oleh sebab itu, masyarakat diimbau bijak menggunakan air, mewaspadai dampak kekeringan, dan terus mengikuti pembaruan prakiraan cuaca dari BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi cuaca terkini.