Elephants

Prabowo Usul Dwi Kewarganegaraan Terbatas, Great Institute: Langkah Strategis Rangkul Talenta Global

August 21, 2026

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak diaspora dengan keahlian dan talenta yang berpotensi memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional.

"Nah, itu juga satu keniscayaan di masa kini ya. Dunia semakin terbuka. Kita enggak bisa sangsikan bahwa ada banyak anak-anak Indonesia yang mereka itu, baik ayah-ibunya Indonesia atau salah satunya, yang mereka itu mungkin punya skill, talenta yang yang bisa dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini," ujar Teguh saat dihubungi Akurat.co, Jumat (21/8/2026).

Menurut Teguh, gagasan tersebut merupakan sinyal positif karena dapat membuka ruang lebih luas bagi talenta diaspora untuk tetap berkontribusi kepada Indonesia. Namun, dia menekankan pentingnya penyusunan

mekanisme yang matang karena kebijakan tersebut dirancang secara terbatas.

"Saya kira ini sebuah upaya yang promising ya. Cuman memang Presiden juga mengatakan terbatas, ya kan. Terbatas dan tentulah setelah pernyataan Presiden itu nanti akan disusun skema yang lebih detail gitu. Sehingga satu kebijakan itu memang membuahkan manfaat yang besar ya. Ya ekses-ekses yang tidak diinginkan agar bisa dihindarkan," katanya.

Terkait mekanisme penerapan, termasuk cakupan hak dan kewajiban bagi penerima kewarganegaraan ganda, Teguh menyerahkan pembahasannya kepada pemerintah dan DPR RI.

Menurutnya, rincian kebijakan baru dapat dinilai secara objektif setelah pemerintah menyusun dan mengajukan rancangan regulasi.

"Ya itu nanti biar dipikirkan oleh eksekutif untuk ditawarkan kepada legislatif gitu ya. Kan nanti pada saatnya ketika rancangan-rancangan itu beredar kan publik akan ikut melakukan penilaian, kan begitu. Nah, kalau sekarang saya belum bisa masuk ke poin-poin karena belum ada poin-poinnya kan," tutur Teguh.

Teguh juga meminta publik tidak mempersempit wacana kewarganegaraan ganda dengan isu naturalisasi atlet, khususnya pemain sepak bola tim nasional.

Menurutnya, gagasan yang disampaikan Prabowo memiliki cakupan lebih luas karena berkaitan dengan kebutuhan Indonesia terhadap sumber daya manusia berkualitas di masa depan.

"Presiden bicara tentang kebutuhan-kebutuhan kita di masa depan. Nah, kita juga sebagai pihak yang membangun opini harus mengarahkan ke situ. Ini bukan persoalan yang itu, bukan persoalan sepak bola, bukan. Ini persoalan yang jauh lebih besar daripada itu," tegasnya.

Baca Juga: Rangkul AS dan China, Indonesia Perlu Terapkan ‘Active Neutrality’