Mataram (ANTARA) - Palang Merah Indonesia (PMI) Nusa Tenggara Barat (NTB) mendistribusikan air bersih untuk lima daerah yang terdampak kekeringan parah sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dalam menghadapi musim kemarau.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PMI NTB Doddy Setiawan mengatakan distribusi air bersih tersebut menyasar Kabupaten Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa, dan Bima yang saat ini berstatus siaga darurat kekeringan.
"Mekanisme penyaluran distribusi air bersih merupakan program rutin dan komitmen berkelanjutan kami setiap musim kemarau, baik atas inisiatif mandiri maupun merespons permintaan langsung dari masyarakat," ujarnya di Mataram, Rabu.
Baca juga: Damkartan Lombok Tengah imbau warga waspada usai tiga kebakaran sehari
Berdasarkan laporan pemantauan PMI NTB dan PMI Pusat, selama satu pekan awal operasi, PMI telah menyalurkan sebanyak 106.500 liter air bersih kepada 6.027 jiwa penerima manfaat.
Bantuan tersebut didistribusikan kepada 20 titik lokasi yang tersebar di 12 desa/kelurahan dan sembilan kecamatan di lima daerah terdampak kekeringan.
Doddy mengatakan penentuan wilayah prioritas distribusi dilakukan berdasarkan hasil asesmen menyeluruh oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, sehingga bantuan dapat diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan.
Ia menegaskan kebutuhan air bersih masyarakat harus segera ditanggapi meski kelima daerah tersebut masih berada pada status siaga darurat dan belum meningkat menjadi tanggap darurat.
"Selama dampak kekeringan dirasakan dan memanjang, pendistribusian air bersih terus digulirkan secara berkesinambungan sesuai peta kebutuhan riil masyarakat di lapangan," papar Doddy.
Baca juga: BMKG menyebut tujuh daerah masuk status awas kekeringan di NTB
PMI NTB menyiapkan skema penyaluran air secara berkala dan terstruktur untuk mengantisipasi kemungkinan dampak kekeringan yang berlangsung lebih panjang akibat fenomena El Nino.
Seluruh jajaran PMI di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota bergerak dalam satu komando terpadu PMI Pusat dalam menyalurkan bantuan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
"Kerja ini adalah kerja kemanusiaan yang bersifat kolektif. Kami berada di bawah satu komando PMI Pusat," pungkas Doddy.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi dampak fenomena El Nino berpotensi berlangsung hingga awal tahun 2027 mendatang.
Informasi tersebut menjadi perhatian PMI NTB bersama PMI Pusat dan mitra internasional, termasuk Federasi Palang Merah Internasional (IFRC), American Red Cross, dan Australian Red Cross dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi dampak kekeringan akibat kemarau.
Baca juga: BMKG meminta warga hemat air antisipasi kekeringan meteorologis