Elephants

PkM Unbrah hibah Diktisaintek 2026, Perkuat kemandirian santri putri melalui reaktivasi UKS dan edukasi kesehatan reproduksi serta higiene perorangan pascabanjir di Padang

August 6, 2026

Padang (ANTARA) - Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat pada akhir 2025 hingga awal 2026 masih menyisakan berbagai persoalan kesehatan, terutama bagi kelompok remaja putri di lingkungan pendidikan berbasis pesantren. Selain berdampak terhadap fasilitas sanitasi, kondisi pascabencana juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan reproduksi akibat terbatasnya akses air bersih, menurunnya kualitas kebersihan lingkungan, serta belum optimalnya edukasi mengenai higiene perorangan.

Merespons kondisi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Baiturrahmah (Unbrah) melaksanakan program intervensi kesehatan bertajuk "Kapasitasi dan Kemandirian Santri Putri melalui Reaktivasi UKS dan Edukasi Kesehatan Reproduksi serta Higiene Perorangan Pascabencana Banjir di Padang." Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas santri putri sekaligus menghidupkan kembali fungsi Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai pusat edukasi dan pelayanan kesehatan dasar di lingkungan pesantren.

Program pengabdian tersebut dipimpin oleh Nirmala Sari, S.ST., M.Keb. sebagai ketua tim, dengan anggota Putri Engla Pasalina, S.ST., M.Keb. dan Hilda Hidayat, S.KM., M.Kes. Kegiatan juga melibatkan dua mahasiswa Universitas Baiturrahmah, yaitu Riesty Wulandari dan Khoirina Nurin Nisa, yang berperan dalam pendampingan lapangan serta pelaksanaan edukasi kepada peserta.

Pelaksanaan program berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026 di MTs Tarbiyah Islamiyah Padang sebagai mitra pelaksanaan kegiatan. Madrasah tersebut dipilih karena menjadi salah satu lembaga pendidikan yang terdampak banjir dan masih memerlukan penguatan sistem pelayanan kesehatan serta peningkatan literasi kesehatan reproduksi bagi santri putri. Program ini menyasar santri putri karena dinilai memiliki kerentanan terhadap masalah kesehatan reproduksi dan kebersihan diri pascabencana.

Rangkaian kegiatan diawali pada rentang Mei hingga Juni 2026 melalui koordinasi dengan pihak madrasah, pengurus pesantren, guru, pengelola UKS, serta pengurus asrama. Pada tahap ini tim menyusun kesepakatan kerja sama, mekanisme pelaksanaan program, sekaligus membangun komitmen bersama dalam mendukung keberhasilan kegiatan pengabdian.

Masih pada bulan yang sama, tim melakukan identifikasi kebutuhan santri putri pascabencana. Melalui diskusi partisipatif diperoleh sejumlah persoalan utama, antara lain kesulitan menjaga kebersihan diri, manajemen kebersihan menstruasi, keterbatasan edukasi kesehatan reproduksi, serta belum optimalnya fungsi UKS sebagai pusat layanan kesehatan di madrasah.

Hasil identifikasi tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan berbagai perangkat edukasi berupa modul edukasi, buku saku santri, poster, dan Alur penggunaan dan pelayanan UKS. Seluruh materi disusun menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan disesuaikan dengan budaya pesantren agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh santri maupun pengelola sekolah. Selanjutnya , tim melaksanakan penerapan teknologi tepat guna melalui revitalisasi penataan kembali ruang UKS agar dapat difungsikan sebagai pusat pelayanan kesehatan dasar.

Setelah itu dilaksanakan reaktivasi UKS yang mencakup penyusunan alur pelayanan UKS, penyediaan buku registrasi, status kesehatan siswa, pembentukan jadwal piket kader santri, serta penguatan sistem administrasi sehingga UKS dapat kembali menjalankan fungsi pelayanan kesehatan di lingkungan madrasah.

Bulan Juli 2026, tim melaksanakan kaderisasi santri melalui pelatihan pemeriksaan kesehatan dasar, praktik cuci tangan yang benar, pengukuran berat badan dan tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi pernapasan, hingga tata cara pengisian buku registrasi UKS. Para kader santri juga memperoleh sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas kompetensi yang telah diperoleh selama pelatihan.

Di bulan yang sama dilaksanakan kegiatan edukasi terkait kesehatan reproduksi. Sebagai awalan Materi edukasi membahas pemahaman pubertas dan perubahan biologis remaja, termasuk perubahan hormonal, menstruasi, serta pentingnya menjaga kebersihan diri selama masa remaja. Peserta juga diberikan pengetahuan mengenai manajemen kebersihan menstruasi, mulai dari pemilihan pembalut yang aman, frekuensi penggantian, cara membersihkan organ reproduksi, hingga pengelolaan limbah menstruasi secara higienis.

Materi berikutnya mengangkat upaya pencegahan infeksi organ reproduksi, pengenalan tanda dan gejala gangguan kesehatan reproduksi yang memerlukan penanganan tenaga kesehatan, serta langkah-langkah menjaga kesehatan reproduksi sejak usia remaja sebagai bentuk pencegahan penyakit di masa mendatang.

Selanjutnya, tim memberikan penguatan mengenai konsep menjaga kehormatan dan kesehatan tubuh dalam perspektif nilai-nilai Islam sehingga materi lebih mudah diterima oleh santri. Selain itu, peserta juga memperoleh praktik personal hygiene yang mencakup kebersihan tangan, tubuh, pakaian, dan lingkungan asrama sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat pascabencana banjir.

Selain penyuluhan, peserta memperoleh pendampingan melalui praktik langsung dan pembagian hygiene kit sebagai sarana pendukung penerapan kebiasaan hidup bersih. Tim juga memberikan lembar observasi dan buku monitoring yang digunakan santri untuk mencatat praktik kebersihan diri selama masa pendampingan.

Sebagai tambahan, sebelum penyampaian materi edukasi tersebut, seluruh peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal, kemudian setelah seluruh sesi selesai dilakukan post-test sebagai bahan evaluasi peningkatan pemahaman peserta.

Edukasi kesehatan reproduksi. (ANTARA/HO-Unbrah)

Pada Agustus 2026 dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap praktik personal hygiene santri, pemanfaatan UKS, serta kondisi fasilitas sanitasi yang telah direvitalisasi. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar penyusunan rekomendasi guna memastikan keberlanjutan program setelah kegiatan pengabdian berakhir.

Harapan ke depan siswa yang terpilih dalam kaderisasi dapat menjadi dasar dari keberlanjutan program tersebut. Dimana siswa terpilih dapat menjalankan program UKS dengan pemberian edukasi kepada siswa lainnya secara berkelanjutan.

Kegiatan ini didanai melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Diktisaintek) Tahun 2026 sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis kebutuhan masyarakat serta memperkuat ketahanan kesehatan di lingkungan pendidikan. *