Banda Aceh (ANTARA) - Pewarta Foto Indonesia (PFI) memamerkan foto terkait bencana hidrometeorologi Sumatera akhir November 2025 hingga tsunami Aceh yang merupakan hasil karya dari pewarta foto saat meliput di lapangan.
"Kami menghadirkan karya ini secara beretika untuk memuliakan ketangguhan manusia dalam melewati masa-masa sulit, bukan untuk mengeksploitasi penderitaan," kata Ketua Umum Pewarta Foto Indonesia (PFI) Dwi Pambudo, di Banda Aceh, Senin.
Pameran disertai peluncuran buku foto jurnalistik bertajuk "Prahara Pulau Emas" itu dilaksanakan PFI bersama Yayasan Riset Visual MataWaktu dan PT PLN (Persero) berlangsung di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, pada 3-8 Agustus 2026.
Pameran menampilkan 68 karya foto dari 38 pewarta foto berbagai daerah di Indonesia yang merekam berbagai peristiwa bencana di Pulau Sumatera serta musibah gempa dan tsunami Aceh silam.
Dwi mengatakan pameran dan buku foto prahara Pulau Emas ini juga sebagai monumen ingatan kolektif atas berbagai bencana yang terjadi di Sumatera.
"Kamera pewarta foto bukan sekadar alat bekerja, melainkan saksi visual atas runtuhnya ruang hidup sekaligus penuntun kemanusiaan," ujarnya.
Ia berharap karya-karya yang dipamerkan mampu memperkuat edukasi mitigasi bencana sekaligus menjadi penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Baca: FOTO - Banjir Aceh Timur
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal saat membuka pemeran mengatakan karya pewarta foto memiliki peran penting dalam mengabadikan sejarah sekaligus menjadi media pembelajaran bagi masyarakat dan pemerintah dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Dokumentasi yang dibuat para pewarta foto menjadi catatan sejarah yang luar biasa. Foto-foto ini bisa menjadi dasar pengambilan kebijakan pemerintah, menginspirasi masyarakat, sekaligus menggugah banyak pihak untuk membantu daerah yang terdampak bencana,” katanya.
Ia menilai foto jurnalistik tidak hanya menampilkan kondisi bencana, melainkan juga merekam penderitaan, harapan, solidaritas, serta semangat masyarakat untuk bangkit setelah mengalami musibah.
Illiza menegaskan Pemerintah Kota Banda Aceh terus mendukung keberadaan pewarta foto, karena hasil karya jurnalistik visual mampu menyampaikan pesan kemanusiaan yang kuat dan menjadi bagian penting dalam dokumentasi sejarah.
"Pembelajaran ini penting agar pemerintah mempersiapkan diri menjadi daerah yang tangguh bencana. Pemerintah membutuhkan pewarta foto untuk merekam kondisi nyata di lapangan," ujar Illiza.
General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Aceh Eddi Saputra menyampaikan dukungan PLN terhadap penyelenggaraan pameran merupakan bentuk partisipasi dalam mendokumentasikan proses pemulihan pascabencana sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat.
Pewarta: Salsabila Ibrahim
Editor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.