Elephants

Petani Natuna berhasil tingkatkan produksi gabah hingga 3,5 ton per hektare

September 2, 2026

Petani Natuna berhasil tingkatkan produksi gabah hingga 3,5 ton per hektare

Rabu, 2 September 2026 14:34 WIB

Image Print

Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura (baju putih) bersama Wakil Bupati Natuna Jarmin (Kedua kiri) memanen gabah kering di lahan seluas 10 hektare di Kecamatan Bunguran Batubi pada Selasa (1/9/2026). ANTARA/HO-Pemkab Natuna

Natuna (ANTARA) - Petani di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, berhasil meningkatkan produksi gabah hingga mencapai 3-3,5 ton per hektare, atau naik dibandingkan rata-rata sebelumnya yang berada pada kisaran 2,5-3,5 ton per hektare.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Natuna Wan Syazali dikonfirmasi dari Natuna, Rabu, mengatakan pada Selasa (1/9/2026) Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura bersama Wakil Bupati Natuna Jarmin memanen gabah kering di lahan seluas 10 hektare yang dikelola tiga kelompok tani (Poktan) di Kecamatan Bunguran Batubi.

Ketiga Poktan itu meliputi, Ciptodadi enam hektare, Poktan Harapan Makmur 2,5 hektare, dan Poktan Melati Mekar Jaya 1,5 hektare.

"Peningkatan produksi ini salah satunya karena adanya bantuan pembenahan tanah berupa dolomit dan pupuk NPK 16.16.16 dari Pemerintah Kabupaten Natuna," ucapnya.

Ia mengatakan pemerintah daerah menargetkan produksi gabah kering panen di Natuna mencapai sekitar 230 ton pada 2026.

DKPP Natuna mencatat produksi gabah mencapai sekitar 127 ton hingga akhir Juli 2026. Capaian tersebut berasal dari sejumlah wilayah yakni Kecamatan Serasan Timur, Bunguran Tengah, dan Batubi.

Wan Syazali mengatakan saat ini ketersediaan air masih menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi petani, khususnya ketika tanaman memasuki fase generatif atau saat padi mulai bunting dan mengeluarkan malai.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, DKPP Natuna melakukan pemantauan ketersediaan air secara rutin, termasuk memastikan sarana pompanisasi yang telah diterima petani dapat dimanfaatkan secara optimal.

Selain itu, pemerintah daerah mendorong inovasi budidaya melalui sistem Pertanian Modern - Advanced Agricultural System (PM-AAS) serta pendampingan oleh penyuluh pertanian dan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).

Petugas POPT juga melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) organisme pengganggu tumbuhan bersama petani untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit tanaman.

Pewarta : Muhamad Nurman
Editor: Nadilla
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.