Elephants

Pesena wisata "danau surgawi" di Xinjiang - ANTARA News Megapolitan

August 30, 2026

Urumqi (ANTARA) - Pegunungan bersalju, gurun yang terik, padang rumput hijau, hingga danau berair jernih membentuk harmoni visual di barat Tiongkok. Xinjiang.

Bentang alam raksasa seluas 1,66 juta kilometer persegi itu merupakan wilayah administratif terluas di Tiongkok, mencakup hampir seperenam dari total daratan Negeri Tirai Bambu.

Kawasan bernama lengkap Daerah Otonomi Uighur Xinjiang ini kerap menjadi sorotan lembaga-lembaga HAM internasional terkait perlakuan terhadap warga etnis Uighur dan komunitas Muslim lainnya. Beijing, di sisi lain, dengan tegas membantah tuduhan tersebut.

Berdasarkan sensus 2020, etnis Uighur merupakan kelompok penduduk terbesar di Xinjiang, dengan populasi mencapai 11,62 juta jiwa atau sekitar 44,96 persen dari total penduduk.

Namun, di balik dinamika geopolitik yang kompleks, Xinjiang memiliki wajah lain yang tak kalah menarik, yakni bentang alamnya yang spektakuler.

Arsitektur alam Xinjiang dibentuk oleh tiga rangkaian pegunungan dan dua cekungan raksasa yang membentang di kawasan ini.

Di utara terdapat Pegunungan Altai dan Cekungan Junggar, yang di tengahnya membentang Gurun Gurbantünggüt, gurun pasir terbesar kedua di China.

Di selatan terdapat Pegunungan Kunlun, yang menjadi batas wilayah dengan Dataran Tinggi Tibet, serta Cekungan Tarim. Di tengah cekungan ini terbentang Gurun Taklamakan, gurun pasir terbesar di China.

Sementara itu, di bagian tengah terdapat rangkaian Pegunungan Tianshan yang membentang dari barat ke timur dan membelah Xinjiang menjadi dua bagian, utara dan selatan. Di jajaran Pegunungan Tianshan inilah Danau Tianchi berada.

Danau surgawi

Danau Tianshan Tianchi (yang secara harfiah berarti "Danau Surgawi") terletak di Lembah Gunung Bogda, bagian dari Pegunungan Tianshan. Secara administratif, danau ini berada di wilayah Kota Fukang, sekitar 110 km dari Urumqi, ibu kota Xinjiang.

Saat memasuki kawasan danau, pengunjung langsung disuguhkan pemandangan indah berupa perpaduan air danau berwarna biru kehijauan dan deretan pegunungan yang ditumbuhi pohon cemara serta pinus. Warna airnya yang memikat kerap berubah dari hijau muda layaknya giok hingga hijau toska.

Danau Tianchi berbentuk menyerupai bulan sabit dengan luas sekitar 4,9 kilometer persegi. Danau yang terletak di ketinggian 1.910–1.980 meter di atas permukaan laut ini memiliki kedalaman maksimal hingga 105 meter.

Kapal listrik di Danau Tianshan Tianchi di Daerah Otonomi Uighur Xinjiang, Sabtu (29/8/2026). ANTARA/Desca Lidya Natalia.

"Pengunjung tidak boleh berenang atau memancing ikan di sini. Pengunjung cukup menikmati keindahan danau dari tepi atau berlayar menggunakan kapal listrik yang telah disediakan," kata Kepala Seksi Ekologi dan Lingkungan Hidup Komite Manajemen Danau Tianshan, He Xianglan, saat ditemui ANTARA di kawasan Danau Tianshan, Sabtu (29/8).

​Wisatawan dapat berjalan mengelilingi danau untuk menikmati ketenangan dan pemandangan dari berbagai sudut.

​He mengungkapkan bahwa setidaknya ada sekitar 3,4 juta orang yang berkunjung ke lokasi wisata tersebut pada 2025, atau meningkat 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

​"Tidak ada musim puncak (peak season) untuk kunjungan wisatawan di sini karena sepanjang tahun selalu ada pengunjung. Danau Tianchi menawarkan keindahan yang berbeda pada setiap musimnya," ujar He.

​Ia menjelaskan bahwa air Danau Tianchi biasanya membeku sekitar bulan Desember dan baru mencair pada April, yang menandai dimulainya musim liburan musim panas.

​Pada musim dingin, pengunjung dapat menikmati wisata ski di Resor Ski Internasional Tianshan Tianchi yang menyediakan tujuh jalur ski untuk tingkat pemula, menengah, hingga mahir.

​Sementara itu, pada musim panas, pengunjung dapat menjelajahi hutan alam seluas sekitar 114,66 ribu hektare di kawasan tersebut, atau menaiki perahu listrik untuk merasakan sensasi berada di tengah danau.

​Masih pada musim panas, wisatawan juga dapat menyusuri hutan yang didominasi pohon cemara Schrenkiana varian Tianshan. Pohon-pohon ini membentuk kanopi bagi semak belukar di bawahnya, seperti mawar, honeysuckle, dan hawthorn.

Di dataran yang lebih rendah dan area terbuka, terdapat bunga Myosotis (forget-me-not), Radiola (tanaman akar emas), serta teratai salju tianshan yang merupakan spesies endemik terkenal.

​Hutan tersebut juga menjadi habitat bagi sejumlah mamalia, mulai dari macan tutul salju hingga rusa merah tianshan. Rusa merah tampak santai menyantap rumput di bawah kanopi pohon cemara saat sejumlah wisatawan menjelajahi hutan di sekitar danau.

​Jika berjalan ke arah timur Danau Tianchi, pengunjung akan menemukan kolam seluas 10.000 meter persegi di lereng gunung yang dikenal sebagai Kolam Naga Terbang atau Danau Feilong (飞龙潭). Air kolam ini berasal dari limpasan Danau Tianchi yang mengalir melalui saluran di sebelah timur laut.

Danau tersebut berada pada ketinggian sekitar 1.875 meter dan memiliki kedalaman antara 6 hingga 11 meter. Pada saluran masuk dan keluar danau, terdapat air terjun.

​Pemandangan air terjun tersebut menyerupai naga putih yang terbang turun dari langit, sehingga kawasan ini dinamakan Lembah Bailong atau Lembah Naga Putih.

​Menurut legenda, Danau Feilong merupakan tempat Ratu Surga Barat membasuh kaki sekaligus menjadi sarang naga hitam. Air danaunya berwarna biru kehijauan dan dikelilingi pohon cemara Schrenkiana serta bunga-bunga liar.

​Danau Tianchi sendiri diselimuti mitologi Tiongkok yang amat populer. Berdasarkan cerita rakyat, Tianchi merupakan Yaochi atau Kolam Giok, yakni taman istana musim panas milik Ratu Surga Barat (Xi Wangmu). Ratu Surga Barat digambarkan sebagai penguasa keabadian, penjaga rahasia kehidupan abadi, sekaligus salah satu dewi tertinggi.

​Legenda menyebutkan bahwa Ratu Surga pernah bertemu dengan Kaisar Mu dari Dinasti Zhou yang sedang melakukan perjalanan ke barat di Gunung Kunlun, tempat tinggal sang dewi. Ratu Surga kemudian mengundang Kaisar Mu ke istana musim panasnya di Danau Tianchi.

​Di sana, mereka berpesta dan sang dewi menyampaikan ajaran rahasia kepada kaisar.

​Saat perpisahan tiba, Ratu Surga menyampaikan pertanyaan melalui puisi yang menanyakan apakah Kaisar Mu akan kembali menemuinya di danau tersebut. Kaisar Mu pun menjawab, "Setelah aku kembali ke Tiongkok dan memimpin rakyat menuju kemakmuran, aku akan kembali kepadamu."

​Sayangnya, Kaisar Mu tidak pernah kembali. Hanya danau yang tenang dan gunung yang sunyi yang menjadi saksi kesedihan sang dewi. Di tepi timur Danau Tianchi kini berdiri Kuil Ratu Surga Barat Xi Wangmu sebagai pengingat akan kisah tersebut.

​"Oleh karena itu, kami tidak menggelar acara sepeda gunung, lari trail, atau festival tertentu untuk mempromosikan Danau Tianchi. Kisah danau ini sudah dikenal luas oleh masyarakat Tiongkok. Masyarakat dari berbagai daerah ingin datang dan melihat langsung Danau Tianchi karena mereka sudah sangat familier dengan cerita rakyat tersebut," jelas He.

Perlindungan alam

​Seiring besarnya arus wisatawan yang datang, He menyebut bahwa pengelola kawasan hutan telah menginvestasikan lebih dari 1 miliar RMB (sekitar Rp2,1 triliun) sejak 2016. Dana tersebut dialokasikan untuk restorasi ekologi, perlindungan lahan basah, penghijauan, serta upaya konservasi alam lainnya.

​Pemerintah setempat juga melarang aktivitas penggembalaan ternak oleh masyarakat di lahan seluas hampir 330 kilometer persegi.

​Hasilnya, total luas lahan yang berhasil dipulihkan mencapai hampir 100 ribu hektare, simpanan karbon meningkat sebesar 328.800 meter kubik, dan tutupan vegetasi padang rumput melonjak dari 34 persen pada 2012 menjadi 90 persen saat ini.

​Kawasan Wisata Danau Tianchi juga telah membangun sistem energi terbarukan untuk mengoperasikan berbagai kendaraan listrik, mulai dari kapal wisata dan armada antar-jemput hingga fasilitas layanan makanan dan sistem pemanas. Alhasil, energi yang digunakan di kawasan inti danau 100 persen berasal dari pembangkit tenaga angin dan surya.

​"Perahu wisata sudah diganti dengan motor listrik, sehingga tidak ada lagi bau solar di permukaan danau," tambah He.

​He juga menyebutkan bahwa pengelola telah menempatkan sejumlah stasiun pemantauan lingkungan guna mengukur kualitas udara, suhu, kelembapan, kecepatan dan arah angin, hingga kadar ion oksigen negatif. Dengan demikian, data yang diperlukan untuk mengelola hutan secara ilmiah dapat diperoleh secara berkala.

​"Kami menempatkan stasiun pemantauan tersebut di berbagai titik kawasan hutan dan danau, sehingga data terkini dapat diperoleh secara berkala," ujar He.

​Untuk mencapai Danau Tianchi dari Urumqi, ibu kota Xinjiang, pengunjung dapat menempuh perjalanan darat menggunakan bus atau kendaraan pribadi selama sekitar 1,5 jam. Tiket masuk kawasan ini dibanderol seharga 95 RMB (sekitar Rp210.000) per orang untuk periode April–Oktober, serta 45 RMB (sekitar Rp100.000) per orang pada periode November–Maret.

​Dari pintu masuk utama, pengunjung wajib melanjutkan perjalanan menggunakan bus listrik antar-jemput menuju area danau dengan tarif 60 RMB (sekitar Rp133.000) per orang untuk waktu tempuh sekitar 40 menit.

​Perpaduan keindahan alam yang memukau, kaya mitologi kuno yang mendunia, serta pengelolaan lingkungan berkonsep hijau yang menjaga kelestarian alam menjadikan Danau Tianchi salah satu destinasi wisata utama yang wajib dikunjungi saat berada di Xinjiang.

Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.