Elephants

Perlukah Orang Tua Minta Maaf setelah Memarahi Anak? Ini Kata Psikolog

July 28, 2026

Jakarta -

Setelah 'kelepasan' memarahi anak, jangan lupa untuk meminta maaf ya, Bunda. Ternyata, hal ini penting untuk perkembangan emosional anak.

Sayangnya sebagian orang tua enggan meminta maaf karena khawatir ini akan menurunkan wibawa atau membuat anak merasa tindakannya dapat dibenarkan. 

Nyatanya, meminta maaf setelah memarahi anak bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari membangun hubungan yang sehat dan saling menghargai dalam keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Mengapa orang tua perlu meminta maaf kepada anak?

Dikutip dari Times of India, ketika orang tua berteriak atau memarahi anak dengan cara yang berlebihan karena terbawa emosi, meminta maaf merupakan langkah yang dianjurkan.

Tujuannya bukan untuk membenarkan perilaku anak, tapi untuk mengakui bahwa cara menyampaikan kemarahan tadi kurang tepat. Misalnya, anak memang melakukan kesalahan, tetapi membentaknya hingga membuatnya ketakutan bukanlah cara terbaik untuk mengajarkan disiplin. 

Dalam situasi seperti ini, Bunda tetap dapat mempertahankan aturan sambil mengakui bahwa respons emosionalnya perlu diperbaiki.

Manfaat positif meminta maaf setelah memarahi anak

Tak sekadar menyelesaikan masalah yang ada, meminta maaf setelah memarahi anak juga memberi manfaat positif seperti:

1. Memulihkan hubungan dengan anak

Saat dimarahi dengan suara keras, anak tentu akan merasa sedih, takut, bingung, atau bahkan merasa tidak disayangi. 

Apalagi bagi anak yang masih kecil, pengalaman seperti itu bisa membekas lebih lama daripada yang diperkirakan orang tua.

Permintaan maaf yang tulus membantu memperbaiki hubungan setelah konflik. Anak pun memahami bahwa meskipun terjadi pertengkaran, kasih sayang Bunda tidak berubah.

2. Mengajarkan anak untuk bertanggung jawab

Seperti diketahui, anak belajar terutama melalui contoh nyata yang mereka lihat setiap hari yaitu orang tua.

Ketika orang tua berani mengakui kesalahan dan meminta maaf, anak akan memahami bahwa setiap orang bisa berbuat salah. Hal yang terpenting adalah bersedia bertanggung jawab dan berusaha memperbaikinya.

Contoh nyata ini jauh lebih mudah dipahami dan diikuti, dibandingkan sekadar mendengar nasihat untuk meminta maaf kepada orang lain saat berbuat salah.

Saat orang tua mengakui kesalahan, anak belajar bahwa masalah dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik, bukan dengan saling menyalahkan.

Dengan begitu, rasa aman secara emosional antara anak dan orang tua akan perlahan terjalin kembali. 

Tak sedikit orang tua yang enggan meminta maaf setelah memarahi anak, karena takut tak lagi dihormati nantinya.

Padahal, para ahli justru menilai sebaliknya. Orang tua yang mampu mengakui kesalahan biasanya lebih dipercaya dan dihargai oleh anak. Sikap tersebut menunjukkan kejujuran, kedewasaan, dan rasa hormat terhadap perasaan anak.

Nantinya anak tetap memahami bahwa orang tua memiliki aturan yang harus dipatuhi. Permintaan maaf hanya menunjukkan bahwa cara menyampaikan aturan tadi kurang tepat. Dengan kata lain, meminta maaf tidak berarti menghapus konsekuensi atas kesalahan anak.

Apa yang perlu dilakukan segera setelah memarahi anak?

Dikutip dari Motherly, hal utama yang perlu dilakukan adalah menenangkan diri. Ini tentu tidak mudah, tapi sangat penting untuk menurunkan emosi yang sedang meledak. 

Bunda bisa membasuh wajah dengan air, sekadar keluar teras untuk menarik napas dalam, atau pindah ke ruangan lain dulu. Setelah itu, bantu anak untuk juga menenangkan diri. Sebab sama seperti orang dewasa yang sulit berpikir jernih saat sedang marah atau sedih, anak juga demikian. 

Langkah berikutnya yakni proses memperbaiki hubungan, tujuannya melepaskan perasaan negatif yang muncul setelah konflik melalui ucapan maaf dan refleksi diri. Jika tidak demikian, baik anak maupun orang tua akan menyimpan emosi negatif tersebut di dalam hati.

Seiring waktu, emosi yang dipendam akan terus menumpuk hingga akhirnya meledak dan membuat konflik dalam jangka panjang.

Tips penting meminta maaf kepada anak

Tak perlu ragu untuk meminta maaf kepada anak, terutama setelah kelepasan memarahinya. Hal ini tak akan membuat orang tua terlihat lemah kok, Bunda.

"Orang tua seringnya berpikir bahwa jika mengakui kesalahan, mereka akan kehilangan kendali dan anak akan menjadi semena-mena. Tapi tidak," kata psikolog perkembangan anak sekaligus penulis buku How Toddlers Thrive, Tovah P. Klein, PhD, dikutip dari Parents.

Menurut para psikolog, berikut komponen-komponen penting saat orang tua hendak meminta maaf kepada anak:

1. Akui bahwa perasaan anak terluka

Jika orang tua menunjukkan bahwa mereka benar-benar menyadari telah melukai perasaannya, anak akan memahami bahwa ini tetap bisa diperbaiki.

Sebagai contoh, permintaan maaf dapat disampaikan seperti ini:

"Maaf ya, tadi Bunda bereaksi berlebihan dan membentakmu. Bunda tahu itu membuatmu sedih. Lain kali Bunda akan menjelaskan terlebih dahulu supaya kamu tidak bingung."

Klein menekankan bahwa yang perlu dimintai maaf adalah reaksi berlebihan orang tua, bukan harapan agar anak bertanggung jawab.

2. Bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan

Seorang sosiolog dan penulis buku The Forgiveness Tour: How to Find the Perfect Apology, Susan Shapiro, menyampaikan bahwa hampir semua respondennya mengungkapkan keinginan yang sama, yaitu ingin didengar, dipahami, dan dicintai.

Menurut Shapiro, mengakui kesalahan, tindakan yang menyakitkan, atau sikap yang kurang peka merupakan langkah pertama dalam meminta maaf dengan baik.

Saat mengakui kesalahan, sampaikan secara spesifik. Hindari permintaan maaf yang terlalu umum, dan jelaskan dengan jelas apa yang memang sudah dilakukan secara keliru.

3. Jelaskan mengapa hal itu terjadi

Menjelaskan alasan di balik perilaku yang tidak tepat dapat membuat anak melihat sisi manusiawi orang tua, sekaligus membuka ruang bagi rasa saling memahami.

4. Tunjukkan bahwa hal itu tidak akan terulang

Permintaan maaf yang tulus menunjukkan empati dan memperkuat hubungan, sekaligus menjadi bekal penting bagi anak dalam masa depannya kelak.

5. Sampaikan dengan jelas dan singkat

Mengucapkan maaf secara singkat tetapi tulus, membantu anak memahami bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan.

Saat Bunda memberi contoh meminta maaf dengan jelas dan tulus, anak juga belajar bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri sehingga mampu berperilaku lebih baik di masa depan. Hal yang paling penting, jangan lupa untuk selalu benar-benar mengucapkan kata 'maaf'.

Menurut Shapiro, memberi hadiah atau kompensasi akan kurang berarti jika tidak disertai pengakuan tulus atas kesalahan yang telah dilakukan.

Karena itu, saat meminta maaf kepada anak, jangan lupa mengucapkan dua kata yang sederhana tetapi sangat bermakna: "Maaf, ya".

Itulah penjelasan tentang perlukah orang tua minta maaf setelah memarahi anak. Ingat, berani meminta maaf akan membantu menciptakan komunikasi yang lebih terbuka, menumbuhkan kecerdasan emosional, serta mengajarkan anak pentingnya bertanggung jawab atas kesalahan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)